Kedua wanita itu salin menggenggam tangan sambil tersenyum tanpa sadar, sampai akhirnyaa mereka salin melepaskan diri dan canggung hinggah kendaraan sampai di rumah sakit. “Dok, tolong… istri saya muntah dan lemah,” suara Reyhan terdengar khawatir begitu pintu klinik terbuka. Langkahnya panjang, napasnya belum beraturan. Tubuh Nilna terkulai lemah dalam gendongannya. Kepalanya terayun pelan setiap kali Reyhan bergerak, membuat jantung pria itu semakin tidak tenang. Seorang perawat berlari menghampiri. “Bawa ke ruang periksa, cepat.” Arjun langsung membuka jalan. “Sini, lewat sini!” Kursi roda didorong tergesa. Reyhan menurunkan Nilna dengan hati-hati, meski tangannya masih enggan melepas. Jari-jarinya sempat menahan pipi wanita itu, seolah memastikan ia benar-benar masih bernapas. “Nilna… dengar aku… kita sudah sampai,” bisiknya “Mas… jangan panik… aku masih sadar.” Suara Nilna pelan, hampir tenggelam oleh bunyi roda brankar yang bergerak cepat. Lampu putih UGD berderet di ata
Read more