Wira mengulurkan selembar kain tipis ke hadapan Sarah yang masih sibuk men ghalau air mata dengan punggung tangan. Ingin rasanya mengelus punggung yang sesekali bergetar karena tangisnya yang belum sepenuhnya reda. Lelaki berperawakan tinggi putih dengan mata sedikit sipit itu duduk di ujung kursi taman yang diduduki Sarah. Nafasnya terdengar berat seolah memberitahukan ketidakberdayaannya meski sangat ingin membantu mengatas apapun yang membuat Sarah tak nyaman. “Ikhlaslah, Dek.” Panggilan yang dipaksakan dan Sarah sedang tak ingin mempermasalahkannya. “Aku sudah ikhlas akan kepergian Bapak,” kata Sarah lirih. “Tapi aku harus menanggung semua sendiri sekarang,” lanjutnya. “Ada banyak orang yang akan ada disampingmu dan support kamu, Dek. Ibu, Pak Anton, Bu Laras, Aku juga terpenting ada anak-anak.” Mendengar Wira menyebutkan anak-anak, air mata Sarah semakin deras mengalir turun. Saputangan yang diberikan oleh lelaki yang lebih akrab dipanggil Dokter Wan itu, telah basah dan len
Última atualização : 2026-03-03 Ler mais