Dia berdiri tegak tanpa goyah. Dengan bahu yang luruh aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Bahkan tidak berani mendekat meski aku masihlah suaminya yang sah secara hukum. Secara agama aku tidak terlalu yakin, karena sudah hampir enam bulan aku tak menafkahinya baik lahir maupun batin. “Kau kejam memisahkan anak dan ayah, Sarah. Kau berubah, bahkan minta cerai. Tak takut bau surga pun tak dapat kau cium?” kataku mencoba menggertak seperti dulu.“Aku senang kau mulai belajar agama, Mas, tapi tolong jangan setengah-setengah,” jawabnya seolah mengejek..Jujur saja aku tak sanggup mengemban tugas berat sebagai suami beristri dua. Kesombongan, dan keangkuhan yang dulu kukira akan membuatku menjadi kuat dan berkuasa atas istri-istriku nyatanya semua zonk. Zubaidah yang awalnya merajakanku juga sama saja lebih parah dari Sarah menuntutku dalam hal nafkah. Aku baru sadar dan benar-benar sadar, apapun alasannya, suami tetap harus menafkahi istrinya dengan benar. Keikhlasan istri akan suami pada
Última atualização : 2026-01-29 Ler mais