“Kamu mau tetap di sini?” tanya Arsya pelan, memecah keheningan lorong rumah sakit yang mulai sepi.“Tidak. Saya akan mengantarkan Anda, Tuan,” jawab Ken sigap, berdiri lebih tegak seperti biasa.“Tapi kan aku bawa mobil sendiri. Kita bisa pulang tanpa Anda, Sekretaris Ken!” celetuk Amira tiba-tiba, alisnya terangkat menantang.Ken hanya terdiam. Wajahnya tetap datar, meski dalam hati ia tahu perdebatan kecil seperti ini tak akan pernah benar-benar ia menangkan.“Kalau begitu, aku pamit dulu sama Sisil, ya,” ucap Amira seraya menoleh ke arah suaminya.Arsya mengangguk singkat. Ia tetap duduk di bangku besi di depan ruang perawatan, kaki disilangkan, tangan terlipat di dada. Tatapannya mengikuti langkah Amira sampai pintu tertutup kembali.***Di dalam ruangan, aroma obat-obatan masih terasa pekat. Sisil yang sejak tadi bersandar di ranjang segera tersenyum lebar ketika melihat sahabatnya masuk.“Sil, ini sudah malam. Aku mau pamit pulang dulu, ya,” ujar Amira lembut.“Yah, kok pulang
Last Updated : 2026-02-13 Read more