Share

Kecoa

Author: Mediasari012
last update publish date: 2026-02-14 20:18:06

“Tapi apa?” tanya Arsya ragu. Alisnya sedikit berkerut, seolah sudah menyiapkan diri untuk permintaan aneh berikutnya.

“Aku mau makannya di taman aja.”

Arsya dan Ken sama-sama mengembuskan napas lega. Setidaknya bukan permintaan yang terlalu merepotkan atau begitulah yang mereka kira.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.

“Aku, kamu, dan Sekretaris Ken makan bersama di atas rumput. Wah, pasti seru banget, ya!”

Senyum Amira begitu cerah, penuh antusiasme, seolah sedang merencanakan piknik imp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Putra Mahkota Arkana Group

    Tangisan itu pecah."Oekk ... oekk ...!"Suara bayi yang baru lahir menggema keras, memenuhi seluruh ruangan bersalin hingga terasa memekakkan telinga. Udara yang sejak tadi dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi haru yang nyaris tak tertahankan.Saat itu juga, tangisan Riana ikut pecah. "Alhamdulillah ... alhamdulillah ..." lirihnya berulang kali, suaranya bergetar hebat.Ia segera mendekat, memeluk tubuh menantunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah Amira tampak pucat, keringat masih membasahi pelipisnya, napasnya belum sepenuhnya stabil. Namun di balik semua itu, ada senyum kecil yang terukir—senyum seorang ibu yang baru saja memenangkan pertarungan hidup dan mati.Riana mencium kening Amira berkali-kali. "Kamu kuat sekali, Nak ... kamu hebat sekali ..." ucapnya dengan suara yang nyaris patah.Sementara itu, Arsya masih berdiri kaku di tempatnya.Tubuhnya seolah kehilangan tenaga. Matanya terpaku pada sosok kecil yang baru saja hadir di dunia, namun pikirannya masih tert

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Melahirkan

    Seorang pilot dan co-pilot telah bersiap di landasan pacu, berdiri tegap di dekat pesawat pribadi milik Arsya yang siap diberangkatkan kapan saja.Lampu-lampu landasan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning ke badan pesawat yang berkilau. Petugas bandara tampak sibuk kembali mengatur jalur penerbangan yang sempat ditutup sementara akibat cuaca buruk beberapa jam sebelumnya.Arsya, Ken, dan Sean berjalan cepat tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar mereka. Langkah mereka panjang dan terburu-buru, seolah setiap detik yang terbuang adalah ancaman bagi seseorang yang mereka cintai.Begitu sampai di dekat tangga pesawat, pilot dan co-pilot langsung menundukkan kepala dengan penuh hormat.“Pesawat siap diberangkatkan, Tuan,” ucap sang pilot singkat namun tegas.Arsya hanya mengangguk tanpa membuang waktu. Ia langsung menaiki tangga pesawat dengan langkah cepat, diikuti oleh Ken dan Sean di belakangnya.Tidak ada percakapan. Tidak ada basa-basi. Hanya ketegangan yang menggantung di uda

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pulang

    Sementara itu, langit Singapura semakin gelap dan badai pun semakin ganas.Setelah selesai membahas semua poin-poin penting, Arsya segera mengakhiri dan menutup meetingnya. Ia beranjak dari duduknya, dan segera keluar dari ruangan meeting diikuti oleh Ken dan Sean disampingnya.Dengan langkah seribu, Arsya berjalan cepat menuju ruangan yang sudah disediakan untuknya. Ken sudah merancang kalimat penenang seindah mungkin saat ini di otaknya. Sementara Sean, otaknya masih menerka-nerka dan menebak ada kejadian apa hari ini dari kedua sorot mata atasannya itu."Berikan hpku," ucap Arsya yang sudah berada di ruangan istirahatnya.Dengan cepat, Ken mengambil ponsel Arsya yang berada disaku celana kanannya. Lantas Arsya menerimanya dengan sorot mata yang mengiris.Arsya menautkan kedua alisnya saat mendapati panggilan tak terjawab dari Elena yang sangat banyak."Ada apa ini? Kenapa Elena meneleponku berkali-kali?" gumamnya.Lalu, ia reflek beralih membuka aplikasi chat berwarna hijau. Dan .

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Antara Nyawa dan Air Mata

    (Kakak ipar mau melahirkan sekarang.)Deg!Mata Ken membulat sempurna. Hampir saja jantungnya melompat dari tempatnya saat membaca pesan itu.Wajahnya tampak panik, tetapi ia berusaha tetap fokus pada jalannya rapat. Di bawah meja, tangannya sudah bergetar hebat. Namun, Arsya dengan mudah menangkap perubahan raut wajah sekretarisnya itu—raut yang mulai mengganggu konsentrasinya.Ken melirik ke arah jendela kaca besar yang membentang di ruang meeting. Cuaca di luar sedang buruk. Hujan badai mengguyur tanpa ampun.Tanpa menghiraukan apa pun, Ken kembali meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Dokter Virgo.(Persiapkan semuanya untuk Nona Muda. Kosongkan satu lantai paling atas untuk saat ini.) Send.“Tuhan, selamatkan Nona Muda dan keponakanku,” batin Ken. Wajah dinginnya kini benar-benar runtuh.***Di Rumah Sakit Medika Utama—rumah sakit terbesar di kota itu—direktur utamanya adalah Dokter Virgo.Begitu menerima perintah dari Ken untuk mengosongkan lantai tertinggi, suasana langsun

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Diantara Nyawa dan Harapan

    Ketiga laki-laki itu akhirnya masuk ke dalam mobil untuk menuju bandara. Ken sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk perjalanan mereka kali ini, jadi semuanya terasa lebih cepat dan efisien.Amira berdiri di teras, melambaikan tangan dengan senyum tipis saat mobil itu perlahan menjauh dan melewati gerbang besar rumahnya. Tatapannya mengikuti sampai kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangan.Setelahnya, suasana mendadak terasa sepi.Cukup lama Amira terdiam di tempatnya berdiri. Ia mengusap perutnya pelan saat rasa nyeri kembali datang. Nafasnya mulai tidak teratur. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Rasa sakit itu sedikit mereda."Tenang ... ini pasti cuma kontraksi biasa," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri.Setelah kondisinya dirasa agak membaik, Amira berbalik masuk ke dalam rumah. Ia melangkah perlahan menaiki tangga, satu tangan bertumpu pada pegangan, sementara tangan lainn

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kontraksi

    “Kia, bibir kamu sakit?” tanya Aiden sambil menatap lekat ke arah gadis di sampingnya.“Tidaaak!” pekik Kiara kaget. Refleks, ia langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.Alih-alih menutup botol minuman itu kembali, Kiara justru terpaku. Pandangannya bergantian menatap bibir botol, lalu tanpa sadar melirik bibir Aiden. Napasnya terasa sedikit tertahan.Hangat.Entah kenapa, ada sensasi aneh yang merambat dari tengkuknya. Ia spontan meraba bagian itu, merasakan bulu kuduknya berdiri.“Kia, kita ke UKS, yuk. Wajah kamu pucat banget,” ujar Aiden, nada suaranya penuh kekhawatiran. Tanpa berpikir panjang, ia menggenggam tangan Kiara.Deg!Jantung Kiara seperti melompat keluar. Dadanya berdebar tak karuan, wajahnya makin memucat, bukan karena sakit—melainkan karena sesuatu yang sulit ia jelaskan.Dengan cepat, Kiara menarik tangannya dari genggaman Aiden.“Maaf, Kia … aku tadi refleks,” ucap Aiden, sedikit canggung. Ia segera menjauhkan tangannya.“Iya …” jawab Kiara pelan, berusaha

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kegugupan Sisil

    “Sekretaris Ken!” Amira beralih mengajak Ken berbicara, suaranya terdengar ringan, tetapi jelas berniat menggoda.“Ya, Nona?” jawab Ken sopan dari kursi kemudi. Tatapannya tetap lurus ke depan, fokus pada jalan.“Kenapa dari dulu Anda tidak korupsi saja? Pasti saat ini Anda sudah sangat kaya,” ucap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rasanya Seperti Telur

    Setelah puas berburu jajanan, mereka semua segera keluar dari area bazar yang masih ramai oleh pengunjung. Lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram mulai menyala seiring senja turun perlahan. Aroma minyak goreng, gula karamel, dan bumbu bakar masih melekat di udara.Amira memeluk dua kantong pla

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bazar

    “Kamu juga terbagi, kita terbagi,” balas Amira pelan.“Aku nggak mau terbagi. Seratus persen hanya boleh jadi milikku,” ucap Arsya, nadanya terdengar posesif tapi matanya memancarkan kekanak-kanakan yang menggemaskan.Amira terkekeh. “Wah, sepertinya bentar lagi aku bakal punya dua bayi. Bayi kecil

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pelukan yang Tak Ingin Terbagi

    “Saya rindu sekali, Sekretaris Ken!” celetuk Sinta dengan nada dibuat-buat manja, jemarinya bahkan sempat melambai kecil.Hubungan Ken dan Sisil memang belum dipublikasikan. Di rumah besar itu, hanya Amira dan Arsya yang mengetahui kedekatan mereka. Yang lain menganggap hubungan mereka tak lebih da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status