Share

Sean Arvada

Author: Mediasari012
last update publish date: 2026-04-08 19:15:02

“Selamat siang, Tuan Muda,” ucap pria itu sambil sedikit menganggukkan kepalanya. “Senang akhirnya bisa bertemu kembali dengan Anda.”

Tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Ekspresinya dingin—tidak kalah tajam dibandingkan Arsya maupun Ken. Sorot matanya lurus, penuh perhitungan, seolah setiap gerak di ruangan itu sudah ia ukur sejak pertama kali melangkah masuk.

“Sean,” ucap Arsya pelan, namun tegas. Tatapannya mengunci pria di hadapannya tanpa memberi celah. “Duduklah.”

Sean mengangguk sin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Akhir Cerita

    "Aku teman lama Sekretaris Ken. Boleh aku menunggunya di sini?" Bibi yang membuka pintu bingung dan meminta wanita itu menunggu. Sisil yang duduk disebelah Amira mendengar laporan bibi terkejut. "Eh dia cari Ken sampai ke sini?" "Siapa Sil? Kamu kenal. Kalau nggak biar security yang urus," tanya Amira.Senyuman Sisil seketika menghilang. "Cewek yang waktu itu di rumah Ken dulu. Di minimarket, aku bertemu lagi sama dia, aku heran kok dia tahu rumah Tuan Arsya," gumamnya."Mira, kita ijinkan dia masuk boleh. Aku numpang terima tamu di rumahmu. Aku ingin tahu Apa Ken sedekat itu sama dia?" Amira mengangguk. Ia mengikuti arah pandangan sahabatnya saat Bibi masuk. Seorang wanita bergaun putih krem berdiri di ambang pintu dengan senyum percaya diri. Wanita itu melangkah anggun ke ruang tamu lalu menyapa semua orang dengan ramah."Selamat siang semua. Saya Relia. Kenal dekat dengan sekretaris Ken. Boleh saya menunggunya di sini?" ""Silakan duduk," ujar Amira."Terima kasih. Saya ingin b

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kunjungan Ibu Ken ke Rumah Arsya

    "Wah, nggak nyangka ya. Akhirnya kita bisa bertemu lagi disini," ucap wanita itu.Sisil masih terdiam, raut wajahnya mendadak datar. Ia memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya."Ulat bulu ini kenapa bisa ada disini sih?" batin Sisil kesal."Kamu pasti lupa ya? Aku Relia, kita pernah bertemu di desa, di rumah sekretaris Ken dulu," ucap Relia sembari mengulurkan tangannya."Sisil," jawab Sisil singkat seraya menerima uluran tangan itu."Ternyata kamu tinggal disini ya? Apa kamu tau alamat sekretaris Ken?" tanya Relia tidak tau malu."Tau, dia udah menikah. Jangan mengusiknya," jawab Sisil datar."Haha, iya aku tau kok. Aku dengar kabar pernikahannya dari ibuku, tapi sayangnya pernikahan itu sangat private ya, jadi kami sangat penasaran dengan wajah istrinya. Secantik apa sih istrinya sampai bisa meluluhkan hati laki-laki dingin dan tampan itu?" ceracau Relia. Gadis itu tidak peduli dengan tatapan aneh para pengunjung minimarket terhadapnya."Aku ingin memukulinya saat ini juga!" ba

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Akhirnya Kita Bertemu lagi

    Hari ini adalah hari ketika Ken dan Sisil akhirnya kembali ke apartemen mereka. Setelah beberapa hari sibuk dengan berbagai urusan keluarga pascapernikahan, keduanya memutuskan untuk tinggal lebih dulu di apartemen milik Ken.Ibu Ken masih belum kembali ke desa. Wanita paruh baya itu rupanya masih ingin menikmati suasana kota selama beberapa hari lagi.Sementara itu, ibu Sisil dan adiknya sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Meski demikian, hampir setiap hari wanita itu tetap datang mengunjungi apartemen putrinya.Sisil bahkan sudah berkali-kali melarang ibunya membersihkan apartemen, tetapi larangan itu seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Setiap kali datang, ibunya selalu menemukan sesuatu untuk dibereskan.Jarum jam kini menunjukkan pukul sepuluh pagi.Kiara sudah berangkat ke sekolah sejak beberapa jam yang lalu. Ken dan Sean pun telah berada di kantor untuk bekerja.Kini hanya tersisa Sisil dan ibu mertuanya di apartemen yang terasa jauh lebih tenang dibanding biasan

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekesalan Sisil

    Amira menghentikan mobilnya tepat di garasi luar.Di kursi teras, terlihat Arsya sedang duduk disana. Sementara Ken sudah berdiri tak jauh dari Tuan mudanya. Sorot mata Arsya seakan sudah mengintimidasi langkah Amira."Tumben sekali kak Arsya dan sekretaris Ken ada diluar!" bisik Elena sangat pelan."Mungkin mereka sedang menunggu kita, El," jawab Amira."Kita? Nunggu kak Mira aja kali," timpal Elena sembari mengulum senyumnya.Obrolan itu terhenti saat mereka sudah sampai di tangga teras. Ken terlihat sedang menganggukan kepalanya ke arah Amira dan Elena."Kak, aku ke dalam dulu ya," pamit Elena tiba-tiba.Amira hanya mengangguk pelan.Arsya menepuk tempat kosong disebelahnya. Tanpa berpikir panjang, Amira segera duduk di samping suaminya."Sayang, Ryu dimana?" tanya Arsya."Tidur di kamar Mama," jawab Arsya. "Apa yang kamu lakukan di toko kamu?" tanya Arsya."Tadi ada vendor yang menghubungi nomor toko, dan bertanya waktu luangku. Lalu aku jawab saat itu juga aku sedang luang, dan t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Ruko

    Di lantai tiga, lantai paling atas ruko milik Amira, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan dua lantai di bawahnya. Setelah menyelesaikan pertemuan singkat dengan salah satu vendor di lantai dua, Amira kembali menaiki tangga menuju ruang istirahat yang ia sediakan untuk dirinya dan para karyawan.Beberapa bulan terakhir, Amira memang melakukan banyak perubahan pada rukonya. Lantai dua yang sebelumnya kosong kini disulap menjadi area multifungsi. Sebagian ruangan dibatasi dengan sekat dan dijadikan tempat menerima tamu atau vendor. Di sana terdapat sofa nyaman, meja kopi, serta beberapa tanaman hias yang membuat suasana terasa lebih hangat.Sementara bagian lainnya digunakan sebagai area pengepakan pesanan. Setiap hari, para karyawan sibuk membungkus barang yang akan dikirim ke berbagai kota. Aktivitas itu membuat bisnis Amira berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.Saat tiba di lantai tiga, Amira mendapati Elena masih berbaring di atas tempat tidur kecil yang berad

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kejahilan Amira

    Tring! Tring!Ponsel Amira berdering sangat keras, hingga ia terbangun dari tidurnya.Ia menggerakan tangannya, mengarahkanmya ke atas meja makan sembari masih memejamkan matanya."Halo." Amira menjawab panggilan telepon itu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang meneleponnya, suaranya juga masih terdengar serak saat ini."Iya, halo. Kak Mira bisa ke ruko sebentar nggak?" tanya Rina melalui panggilan telepon."Iya, Rin. Tunggu sebentar ya," jawab Amira menyetujuinya tanpa menanyakan alasannya.Ia sudah bisa mengira bahwa ada hal penting yang harus melibatkan dirinya. Semua karyawannya selama ini sudah bisa menghandle toko tanpa titah darinya lagi, ia selama ini hanya menerima laporan dan mengecek tokonya hanya dari rumah saja."Berapa lama aku tidur?" ucapnya sembari mengusap beberapa kali. "Dimana Ryu? Ryu!"Matanya membulat sempurna saat menyadari anaknya tidak ada di kamarnya. Ia kembali mengecek ponselnya, terlihat ada sebuah pesan dari Elena, pesan itu dikirim sejak jam tujuh

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Kebun

    "Halo, Dek. Siapa namanya? Cantik sekali," sapa Amira dengan senyum hangat.Langkahnya melambat saat melihat seorang gadis kecil berdiri mematung di tepi jalan. Gadis itu tampak malu-malu, memeluk keranjang kecil di tangannya. Amira sedikit menunduk, menyamakan tinggi badannya, berusaha membuat si

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Memberikan Cincin

    "Gadis di sebelahmu itu siapa, Ken?" tanya ibunya tiba-tiba.Pertanyaan itu membuat suasana ruang tamu yang semula hangat seketika berubah tegang. Seolah ada sesuatu yang berat jatuh tepat di tengah ruangan.Ken dan Sisil sama-sama terdiam.Pertanyaan yang sejak tadi mereka khawatirkan akhirnya ben

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Perjalanan Menuju Ibu Ken

    Setelah obrolan singkat itu, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka berjalan menuruni tangga dengan langkah beriringan.Dari bawah tangga sudah ada Sekretaris Ken dan Pak Heru yang berdiri di ujung tangga. Mereka menganggukan kepalanya hormat saat Arsya dan Amira sudah sampai di

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Penasaran dengan Rumah Sekretaris Ken

    Kicauan burung bersahut-sahutan di pagi yang cerah. Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, seolah baru saja keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menebarkan sinar hangat yang menyelimuti seluruh halaman mansion. Embun pagi masih menempel di daun-daun bunga di taman depan, berkilauan dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status