Kami kembali melanjutkan langkah menembus lorong dapur yang sangat gelap. Rabaan tanganku pada dinding tembok menjadi satu-satunya penunjuk jalan menuju pintu rahasia.Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, kami tiba di ujung lorong buntu dekat gudang. Tanganku meraba sebuah celah kecil di balik rak piring kayu yang besar. Aku menarik tuas tersembunyi itu dan sebuah pintu baja tebal bergeser terbuka ke samping."Ayo cepat masuk ke dalam lorong bawah tanah ini," perintahku mendorong punggung mereka satu per satu."Kamu nggak ikut turun ke bawah sama kita, Raf?!" tanya Shella panik menyadari aku masih berdiri di luar pintu."Aku harus nahan pergerakan mereka di atas sini, Shell. Kalau kita semua sembunyi, mereka bakal gampang ngeledakin pintu baja ini dari l
Read more