"Ayo kita pulang, Shella. Urusan di sini biar tikus-tikus ini yang selesaikan."Sekali lagi, aku memanggil namanya langsung. Dan kali ini, di depan bawahannya yang kurang ajar, panggilan itu terdengar seperti klaim kepemilikan.Nona Shella menatapku dengan tatapan yang sulit dilukiskan. Ada rasa kagum, rasa terima kasih, dan gairah yang menyala-nyala di balik matanya yang indah. Dia berjalan di sampingku, tangannya secara refleks menggandeng lenganku erat-erat saat kami keluar dari ruangan itu, meninggalkan Pak Haryo yang masih gemetar di lantai.Perjalanan pulang ke rumah terasa jauh lebih tenang, namun penuh dengan ketegangan jenis lain. Ketegangan sensual yang sangat kental.Nona Shella duduk di sampingku di kursi depan karena dia menolak duduk di belakang lagi. Tangannya sesekali menyentuh lengan atasku saat aku memindahkan gigi persneling, sentuhan yang disengaja dan penuh arti."Kamu hebat banget tadi, Rafli. Aku nggak pernah liat kamu semarah itu.""Saya nggak suka ada laki-lak
Last Updated : 2025-12-28 Read more