Setelah kepulangan dari kampus, Aira merasa gelisah. Ia tidak bisa hanya duduk diam di dalam kamar yang luas, menatap dinding-dinding mewah yang kini terasa seperti jeruji. Untuk mengalihkan pikirannya dari keraguan yang ditanamkan Arvin, Aira memutuskan turun ke dapur.Nora sedang sibuk menata camilan sore ketika ia melihat Aira datang dan langsung meraih pisau untuk membantu mengupas buah."Nona Aira! Astaga, letakkan pisaunya," seru Nora panik. "Tuan Adriel bisa memotong gaji saya kalau melihat Anda bekerja di dapur lagi. Anda baru saja pulang, sebaiknya beristirahat."Aira hanya tersenyum tipis, tangannya tetap lincah mengupas kulit apel tanpa putus. "Aku justru bingung kalau tidak melakukan apa-apa. Biarkan aku membantumu, ya? Anggap saja ini terapi untukku."Nora menghela napas, menatap Aira dengan penuh rasa sayang. Di saat mereka sedang sibuk bercengkerama, seorang pelayan muda masuk."Nona Aira, ada tamu di depan. Nyonya Catarina dan Tuan Muda Lucian baru saja sampai," lapor p
Read more