Pagi itu, suasana salon eksklusif di kawasan Menteng yang menjadi langganan klan-klan tua Jakarta terasa begitu mencekam. Aira duduk mematung di depan cermin besar berbingkai emas. Ia menatap pantulan dirinya yang sedang dikelilingi oleh tiga orang penata rias. Di belakangnya, Lastri berdiri tegak dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari gerak-gerik para pekerja maupun Aira.Saat seorang penata rias menarik rambut Aira sedikit terlalu kencang untuk membuat sanggul modern yang sempurna, Aira meringis kecil. Ingatannya seketika melayang pada Gio, penata rias kesayangan Catarina yang selalu bersikap jenaka dan memperlakukannya dengan sangat lembut. Gio akan mengajaknya bercanda, memuji kecantikannya, dan memastikan Aira merasa nyaman. Namun di sini, ia merasa seperti sebuah manekin yang sedang diperbaiki untuk sebuah pameran."Dagu lebih tinggi, Nona," tegur Lastri dingin, memecah lamunan Aira. "Ingat apa yang saya ajarkan semalam. Saat Anda memasuki au
Read more