Arvin turun terlebih dahulu, lalu ia membukakan pintu untuk Aira. Aira melangkah keluar dengan canggung."Terima kasih, Arvin," ucap Aira lirih.Arvin tersenyum hangat. "Sama-sama, Aira. Aku akan menjemputmu tepat setelah kelas usai. Jangan khawatir, selama bersamaku, tidak akan ada yang berani mengganggumu.""Aira! Wah, wah... lihat siapa yang berangkat bareng pagi ini!"Sebuah teriakan melengking mengalihkan perhatian mereka. Dara berlari mendekat dengan mata membulat sempurna. Ia menatap Aira, lalu menatap Arvin, dan kembali ke Aira dengan ekspresi tak percaya."Dara," sapa Aira kaku.Dara langsung merangkul pundak Aira, lalu menatap Arvin. “Sepertinya ada yang sedang mencoba peruntungan kedua nih? Ingat ya, jangan bikin sahabatku ini pusing lagi!"Aira hanya bisa tersenyum kaku. Hingga saat ini, Dara memang belum mengetahui identitas asli Aira sebagai istri Adriel Varmadeo, apalagi sebagai pewaris klan Ragendra. Di mata Dara, Aira hanyalah sahabatnya yang tiba-tiba dikelilingi ban
Read more