Pukul dua pagi, waktu di mana dunia seharusnya tertidur, namun Selena masih terduduk kaku di sudut sofa ruang tamunya. Ia masih mengenakan setelan kantor berwarna krem yang ia pakai saat Leonidas menghancurkan seluruh dunianya tadi siang. Riasan wajahnya sudah berantakan. Ia tidak bergerak selama berjam-jam, hanya menatap kosong ke arah deretan koper besar yang sudah berjajar rapi di dekat pintu keluar. Sesuai perintah Leonidas, ia harus menghilang. Selena merenungi kebodohannya. Ia mengira dengan menyebar foto skandal itu, Adriel akan kembali merangkak padanya mencari perlindungan. Namun ia salah besar. Ia lupa bahwa di klan Varmadeo, kesetiaan pada nama baik keluarga jauh lebih tinggi daripada sekadar asmara masa lalu.Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di lantai bergetar. Dengan tangan gemetar, Selena meraih benda itu.[Ibu: Kamu baik-baik saja, Nak? Kenapa belum telepon Ibu hari ini? Kabari Ibu kalau sudah tidak sibuk, ya.]Satu pesan sederhana itu menghantam ulu hati Selena. A
Read more