Napas Adriel menderu berat. Bayangan Aira duduk bersisian di tepi danau dengan Arvin, terus berputar di kepalanya seperti film horor yang menyiksa. Rasa cemburu itu bukan sekadar percikan api, melainkan ledakan lava yang menghanguskan akal sehatnya.Ia semakin merangsek maju, merangkak di atas ranjang hingga tubuh besarnya benar-benar mengurung Aira. Kedua tangannya mengunci di sisi kepala Aira, memaksa gadis itu menatap kegelapan di matanya."Apa dia menyentuhmu?" desis Adriel, suaranya parau. "Apa pria itu berani meletakkan tangannya di kulitmu saat aku tidak ada?"Aira tidak menjawab. Ia hanya diam, namun dadanya naik turun dengan cepat. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang pucat, tetapi matanya kini memancarkan kobaran amarah dan luka yang sangat dalam. Ia menatap Adriel seolah-olah pria di hadapannya adalah orang asing yang paling ia benci."Jawab aku, Aira!" gertak Adriel, suaranya meninggi."Kenapa?" Aira akhirnya bersuara, pecah di tengah isak tangisnya. "Kenapa kamu
Última actualización : 2026-03-02 Leer más