Hujan badai yang mengamuk sejak pagi perlahan mulai mereda saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Adriel sedang berada di kamar mandi, sementara itu, Aira sedang merapikan beberapa buku di ruang tengah ketika sebuah suara bel memecah kesunyian.Aira mengernyitkan kening. Siapa yang datang malam-malam begini? Adriel bilang mereka tidak membawa pelayan, dan Marcus berada di pulau seberang. Dengan rasa penasaran yang bercampur sedikit waspada, Aira melangkah menuju pintu depan.Begitu pintu dibuka, di depan pintu, berdiri seorang pemuda lokal, mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Aira. Ia mengenakan jas hujan plastik yang masih basah dan membawa sebuah kotak kayu besar berisi bahan logistik segar."Malam, Bu... eh, Mbak," ucap pemuda itu terbata-bata.Saat pemuda itu mendongak dan menatap wajah Aira, gerakannya seketika terkunci. Ia terpana. Aira tampak begitu cantik dan bersinar di bawah lampu lobi vila. Kulitnya yang putih dan matanya yang jernih membuat pemuda itu kehilangan
Última actualización : 2026-03-16 Leer más