Dinding ruang itu tidak terbuat dari jeruji besi yang berkarat. Sebaliknya, dindingnya dilapisi wallpaper sutra berwarna krem dengan aksen emas. Sebuah televisi layar datar berukuran 50 inci terpasang di dinding, menampilkan berita. Di sudut ruangan, sebuah mesin kopi otomatis merek Italia mengeluarkan aroma robusta yang kuat, memenuhi udara yang disejukkan oleh pendingin ruangan yang berdesir halus.Mirna duduk di kursi beludru, mengenakan piyama sutra berwarna marun yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Di depannya, seorang pria bersetelan rapi—asisten pribadinya yang setia, Riko berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, memegang sebuah map kulit hitam."Katakan padaku, apakah tikus-tikus kecil itu sudah masuk ke dalam perangkap?"Riko berdehem pelan. "Laporan dari Puncak baru saja masuk, Nyonya. Kelompok yang dikirim oleh Pak Broto telah mengepung lokasi pemakaman tepat waktu. Namun..." Riko menjeda kalimatnya, tampak ragu.Mirna menyesap kopinya perlahan, matanya yang tajam mena
Read more