Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden, membelai wajah Aira yang masih terlelap. Saat ia meraba sisi ranjang di sampingnya, ia hanya menemukan seprai yang sudah mendingin. Adriel sudah bangun.Aira bangkit perlahan, meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal. Saat ia hendak menyibakkan rambut, matanya tertuju pada jari manis tangan kirinya. Sebuah cincin dengan berlian tunggal berbentuk marquise melingkar di sana, berkilauan tertimpa cahaya pagi."Sejak kapan...?" gumamnya heran.Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Aira turun ke ruang makan. Di sana, Adriel sudah duduk rapi, sibuk dengan tablet dan kopi hitamnya. "Pagi, Sayang," sapa Adriel. Ia menarik kursi di sampingnya, mengisyaratkan Aira untuk duduk.Aira duduk, namun tangannya terus meraba cincin baru itu. "Adriel, ini... kapan kamu memasangnya? Aku tidak ingat punya cincin ini."Adriel menyesap kopinya. "Semalam. Saat kamu sudah tidur sangat nyenyak setelah... yah, kegiatan kita. Aku ingin memastikan sa
Read more