Catarina menuntun Aira menuju sebuah ruangan privat di lantai atas hotel, jauh dari kebisingan ballroom. Tubuh Aira masih sedikit gemetar saat ia duduk di sofa beludru berwarna emas."Minum ini dulu, Aira," ucap Catarina, menyodorkan segelas air putih. "Ingat bayimu, tenangkan dirimu."Baru saja Aira menyesap air itu, pintu ruangan terbuka dengan hentakan keras. Leonidas masuk dengan wajah memerah, napasnya memburu akibat amarah."Di mana dia? Apa dia terluka?" tanya Leonidas, matanya langsung tertuju pada Aira. "Aira, apa bajingan kecil itu melakukan sesuatu padamu?""Aku tidak apa-apa, Papa," jawab Aira pelan. "Adriel sudah menghentikannya sebelum dia melangkah lebih jauh.""Julian benar-benar gila! Dia pikir dia siapa berani membuat keributan di acara klan?" Leonidas menggeram, tangannya mengepal di samping tubuh. Catarina berdiri, menghalangi langkah ayahnya. "Papa, cukup. Aira butuh ketenangan, bukan tambahan omelan Papa. Keluarlah, biarkan aku menemaninya. Adriel pasti sedang d
Read more