Share

Bab 191 Sebuah Janji

Author: Dama Mei
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-05 15:53:11

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalur Puncak saat iring-iringan mobil hitam melaju membelah jalanan yang berkelok. Aira duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya di bahu Adriel sembari mengelus perutnya yang sesekali memberikan tendangan halus.

Di kursi depan, Marcus mengemudi dengan konsentrasi penuh, sementara Serafina duduk di sampingnya. Matanya terus berpindah antara layar tablet dan jalanan di depan mereka. Sejak perdebatan di restoran tempo hari, keduanya tidak banyak bicar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 391 Menyisakan Sedikit Pun

    Para karyawan berbisik-bisik di dekat bilik kerja masing-masing, saling bertukar pandang dengan wajah yang dipenuhi kebingungan.Di area lobi utama pimpinan, seluruh jajaran staf senior, kepala divisi, dan anggota dewan pengawas dikumpulkan secara mendadak oleh bagian SDM."Ada apa ini sebenarnya?" bisik salah seorang staf wanita di samping Fanny. "Kenapa kita dipanggil berkumpul secara mendadak begini? Apakah ada pengumuman penting dari Nyonya Aira?"Fanny hanya berdiri mematung. Sepasang matanya menatap cemas ke arah dua bilah pintu kayu jati ruang rapat utama yang masih terkunci rapat.Dua orang perwakilan tim hukum senior Ragendra melangkah keluar, diikuti oleh seorang pemuda bertubuh tegap yang mengenakan kemeja putih mahal berlapis jas hitam tanpa dasi.Pemuda itu melangkah dengan postur tegap yang amat sangat tenang. Wajah blasterannya yang luar biasa tampan membiaskan pendaran bersahaja, sementara matanya menyapu seluruh staf yang berdiri berbaris di lobi.Fanny membelalakkan

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 390 Rasa Percaya Diri

    "Hahaha..."Sebuah tawa bergema dari Adriel Varmadeo."Gaya bicaramu sungguh menarik, Pak Kusuma," tutur Adriel dengan senyuman tipis. "Aku hampir lupa betapa tingginya rasa percaya diri para tetua yayasan Ragendra."Helaan napas lega seketika terdengar saling bersautan di sekeliling meja makan bulat tersebut."Aduh, Sir V..." sahut Pak Kusuma, tersenyum canggung. "Anda ini suka sekali bercanda. Soal Nyonya Aira... tentu saja kami menghormati beliau sewaktu beliau memegang pimpinan yayasan. Namun, tekanan media masa kini menuntut sosok yang lebih tegas dan berpengalaman, bukan?""Tentu," sahut Adriel singkat, mengangguk-angguk kecil. "Pilihan yang sangat logis bagi para tetua yang memikirkan keuntungan aset."Pak Kusuma menuangkan kembali teh tieguanyin ke cangkirnya, mencoba menegakkan kembali posisi tubuhnya. "Nah, karena Anda sudah memahami posisi kami, Sir V... sebaiknya kita bicara jujur. Untuk apa sebenarnya Anda menyewa ruang ini dan mengumpulkan kami berlima?"Adriel melirik t

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 389 Sepucat Kapas

    Pak Kusuma duduk mematung dengan bahu yang menegang kaku. Adriel Varmadeo menyandarkan punggung, menyilangkan kedua kakinya yang panjang. "Apa maksud Anda dengan dokumen penawaran terakhir?" tuntut Pak Kusuma.Adriel menyunggingkan senyuman tipis. "Apakah kalimatku kurang jelas?" balas Adriel. "Kalian berlima berkumpul di meja ini untuk merayakan penyerahan Yayasan Ragendra dari tangan Aira ke tangan Dimitri." Mantan direktur keuangan di samping Pak Kusuma berdeham kaku. "Sir V, kami ini adalah para tetua yayasan Ragendra. Penyerahan yayasan oleh Tuan Besar Guntur adalah keputusan internal klan kami demi meredam perselisihan keluarga. Kami hanya mengikuti alur demi mengamankan kepastian investasi." "Kepastian investasi?" potong Adriel singkat. Adriel mengalihkan tatapan matanya. "Atau lebih tepatnya kalian dibuai janji manis Dimitri, bahwa setelah pria itu menduduki posisi Direktur Utama, aset tanah inti dan dana kas lembaga akan dibagikan sebagai kompensasi atas kesetiaan kal

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 388 Restoran Tionghoa

    Aroma legit bebek panggang berkulit renyah, dan harum teh tieguanyin yang diseduh menguar memenuhi ruang VIP restoran Tionghoa legendaris di pusat kota. Di tengah ruangan, sebuah meja makan bulat berukuran raksasa dilapisi kaca putar telah dipenuhi oleh puluhan mangkuk porselen premium. Di sekeliling meja tersebut, duduk lima orang pria paruh baya hingga lanjut usia. Mereka adalah Pak Kusuma beserta jajaran tetua yang dulu pernah menempati posisi-posisi krusial di yayasan Ragendra."Jujur saja, sampai detik ini aku masih tidak habis pikir," celetuk Pak Kusuma memecah keheningan. "Untuk apa kita dikumpulkan di restoran ini?"Pria tua berpostur agak gemuk yang duduk di samping Pak Kusuma menghembuskan asap cerutunya pelan. "Aku pun sama sekali tidak mendapat kejelasan, Kusuma. Pagi tadi, aku hanya menerima pesan singkat yang meminta kita hadir di ruang VIP ini tanpa membawa pengawal."Tetua lain, seorang pria kurus berwajah kaku, ikut menimpali. "Siapa lagi kalau bukan Guntur Ragendra?

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 387 Abdi Negara

    Langkah kaki Serafina menghentak pelan di atas jalan aspal kompleks perumahan cluster. Kedua tangannya memegang erat lima kantong plastik besar. Di sampingnya, Nora berjalan dengan langkah yang teramat santai dan riang. Dua tas kain hijau milik kepala pelayan senior itu terisi penuh oleh dedaunan segar dan bumbu dapur, namun ekspresi wajahnya tampak begitu puas."Lihat kan, Sera?" celetuk Nora melirik ke arah kantong belanjaan di tangan Serafina. "Ikan guramenya masih segar sekali, matanya bening. Tahunya juga lembut. Kalau belanja langsung ke pasar tradisional, kita bisa dapat kualitas paling bagus untuk Nyonya Aira dan si kecil EJ."Serafina tidak langsung menyahut. Ia hanya menghembuskan napas panjang, mencoba menahan sisa-sisa kejengkelan."Perjalanan ke pasar tadi memakan waktu empat puluh lima menit lebih lama dari estimasi awal, Nora," tegur Serafina. "Kamu memutari tiga lorong yang sama dua kali hanya demi menawar harga kelapa dan tahu."Nora tertawa tanpa rasa bersalah. "Aduh

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 386 Persediaan Bahan

    Aira sedang duduk bersimpuh, di pangkuannya, si kecil EJ sedang menyusu dengan begitu tenang. Jemari mungilnya sesekali meremas gaun Aira."Anak pintar Mama," bisik Aira seraya mengelus rambut halus di kepala putrinya. "Nyenyak banget tidurnya tadi malam, hm?"EJ melepaskan hisapannya sejenak, mengedipkan sepasang mata bulatnya yang jernih, lalu menyunggingkan senyuman tanpa dosa. Aira tertawa kecil. Di rumah sederhana inilah, ia merasa bisa bernapas lega tanpa perlu merasa terancam.Sementara itu, di halaman depan rumah, udara pagi masih diselimuti hawa dingin yang mengembun di dedaunan gajah mini.Nora melangkah keluar menuju ke area pelataran parkir dengan raut wajah yang tampak cemas dan bingung. Kedua tangannya menggenggam erat dua tas kain belanja lipat berwarna hijau. Nora berjalan bolak-balik di dekat pagar besi putih, menyapu pandangannya ke kiri dan ke kanan.Serafina—yang sejak subuh sudah bangun melangkah keluar dari samping rumah. "Nora?" tegur Serafina. "Ada apa? Kenapa

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 185 Tidak Akan Menyerah

    Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 7 Cara Melindungi Diri

    Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 6 Mengizinkanmu Tinggal

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 5 Mimpi Buruk Aira

    Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status