LOGINMobil berhenti tepat di pelataran sebuah rumah berlantai satu di sudut kompleks cluster. Pagar besinya berwarna putih bersih, dikelilingi taman kecil dengan rerumputan gajah mini yang tertata sangat rapi dan hijau.Serafina keluar lebih dahulu dari pintu pengemudi. Sepasang mata tajamnya menyapu sekeliling area—memastikan tidak ada kendaraan mencurigakan yang menguntit mereka. Setelah memberi sinyal aman lewat deheman pelan, Serafina membukakan pintu penumpang bagian belakang.Aira melangkah turun sambil menggendong erat si kecil EJ. Bayi perempuan yang genap berusia sebelas bulan itu tampak mengerjap-ngerjapkan matanya yang bulat, menatap lingkungan asing di sekitarnya dengan kepalanya yang menoleh ke kiri dan ke kanan."Silakan, Nyonya Aira," ujar Serafina pelan, menyerahkan kunci rumah. "Ini adalah rumah rahasia atas nama pihak ketiga yang disiapkan khusus oleh tim Tuan Adriel."Di belakang mereka, Nora melangkah turun dari mobil dengan membawa dua tas pakaian berukuran sedang. Nam
Guntur Ragendra sedang duduk tenang di atas kursi rodanya di dekat sudut jendela beranda. Tangan tuanya yang sedikit gemetar memegang sendok, menikmati santapan makan siangnya dengan ritme yang lambat dan teratur. Pintu ruang makan terbuka. Prabu melangkah masuk ke dalam ruangan. Guntur meletakkan sendok ke atas porselen, mengusap bibirnya pelan dengan serbet kain, lalu mendongakkan kepala menatap asisten setianya."Prabu," panggil Guntur. "Bagaimana hasil komunikasimu dengan asisten Adriel?"Prabu menelan ludahnya."Bagaimana posisi pencarian Aira saat ini?" desak Guntur, tak sabar. "Di mana lokasi persembunyian cucuku sekarang?"Prabu menghembuskan napas pelan."Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Besar Guntur," tutur Prabu dengan intonasi rendah dan hati-hati. "Saya baru saja menemui Marcus, asisten Tuan Adriel.""Lalu? Apa yang dia katakan?" potong Guntur cepat."Situasinya tidak sesuai dengan perkiraan kita, Tuan Besar," jawab Prabu jujur. "Adriel Varmadeo menutup rapat selu
Satu jam sebelumnya …Adriel Varmadeo berdiri mematung di dekat dinding kaca raksasa yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Dari ketinggian lantai paling atas itu, matanya menatap lurus ke arah pendaran sinar matahari pagi kota Jakarta.Di balik meja, Marcus sedang sibuk mengoperasikan dua layar monitor yang menampilkan pergerakan sinyal GPS secara real-time. Jemari Marcus bergerak lincah di atas papan ketik, memeriksa laporan berkala dari armada pengawalan yang membawa Aira dan si kecil Elenora Jasmine meluncur menembus tol."Marcus," panggil Adriel tanpa memutar tubuhnya. Marcus seketika menghentikan ketukan jarinya. Pria itu berdiri tegap di balik meja kerja. "Saya di sini, Tuan Adriel."Adriel memutar tubuhnya perlahan. Ia berjalan perlahan mendekati meja tengah, menatap layar monitor yang menampilkan titik-titik hijau bergerak."Bagaimana posisi rute pengawalan saat ini?" tanya Adriel datar."Semua berjalan sesuai rencana, Tuan," sahut Marcus cepat sambil menunjuk sala
Semburat pendaran matahari menyusup menembus sela-sela tirai tebal di kamar utama. Udara pagi yang sejuk bertiup pelan saat Aira berdiri di dekat sudut ruang rias, mengamati dua orang pelayan senior yang sedang telaten menyusun beberapa koper kecil.Di dekatnya, Nora berdiri dengan senyuman hangat penuh keibuan. Dalam dekapan lengan pelayan tua itu, si kecil EJ yang menginjak usia sebelas bulan tampak tenang. Jemari mungilnya sesekali memegang ujung kerah gaun Nora, matanya berkedip lambat menikmati ayunan lembut dari sang pengasuh."Boks bayi portabel sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil kedua, Nyonya Aira," tutur Nora lembut.Aira memutar tubuh, mengulas senyuman manis. Ia mendekati Nora, lalu mengelus pipi gembil EJ. "Terima kasih banyak, Nora. Aku merasa jauh lebih tenang karena kamu ikut bersamaku.""Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Nyonya dan Nona Kecil," balas Nora tulus.Pintu jati kamar utama berderit pelan. Adriel melangkah masuk. Ia memberikan isyarat pada Nora
Dimitri berdiri di dekat meja kayu jati milik almarhum ayahnya. Pria muda itu menuangkan cairan cokelat keemasan dari botol kristal ke dalam dua gelas berkaki tinggi.Dimitri membalikkan badan. "Minumlah. Kamu terlihat sedikit gemetar."Valerie menerima gelas kristal itu. Wanita itu meneguk minuman keras tersebut dalam satu tegukan besar, membiarkan rasa hangat menyengat tenggorokannya."Gila... kamu benar-benar gila, Dimitri," ujar Valerie. "Pengawal tua itu hampir membunuhmu tadi. Tapi kamu... kamu bahkan tidak berkedip sedikit pun saat melihat Guntur terkulai sesak napas di kursi rodanya."Dimitri terkekeh. Ia mendekat, mengepung tubuh Valerie di antara dadanya yang bidang dan tepi meja jati."Kenapa harus berkedip?" tutur Dimitri santai, meraba dagu Valerie. "Pria tua itu sudah hampir mati. Dan yang paling penting... kita baru saja memenangkan pertunjukan pertama malam ini."Valerie menatap sepasang mata keabuan Dimitri. Pria muda berdarah dingin ini terpaut usia jauh di bawahnya,
Pria sepuh itu meremas dada kirinya. Wajah keriputnya mendadak berubah pucat pasi, diiringi suara desisan napas yang putus-putus."Khh... khh..." Guntur tersengal, hampir kehilangan kesadaran akibat lonjakan tekanan darah.Melihat kondisi majikannya yang mendadak kritis, Prabu yang sejak tadi berdiri mematung seketika menerjang maju dengan kecepatan luar biasa. Tanpa ragu, tangan Prabu mencengkeram kuat kerah kemeja Dimitri. Dengan satu dorongan bertenaga besar, Prabu menghempaskan Dimitri hingga punggung pria muda itu menabrak pilar dengan dentuman keras."Argh!" Dimitri meringis pelan, matanya membelalak kaget."Jaga mulutmu dan tahu diri, Dimitri!" bentak Prabu. Tangan Prabu kian mengetat di kerah kemeja Dimitri.Valerie yang berdiri di samping mereka menjerit kecil, mundur beberapa langkah. "Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan dia!"Dimitri berusaha mempertahankan senyum culas di bibirnya, meski napasnya sedikit tersendat akibat cengkeraman kuat di lehernya. Dimitri melirik tajam ke
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







