Aneya menunggu daya ponselnya penuh dengan rasa penasaran yang belum surut. Ia hanya bisa berdiam diri sembari memperhatikan tirai dekat jendela yang bergoyang akibat tertiup angin. Kelopak matanya kembali terasa berat, semilir angin pagi menjelang siang membuat rasa kantuk Aneya semakin menjadi. Netra itu perlahan tertutup, tetapi belum ada semenit, ia langsung membuka mata dan kembali memeriksa ponselnya. “Syukurlah daya yang terisi sudah hampir penuh,” celetuk Aneya sambil mencabut pengisi daya tersebut. Ia menekan tombol daya beberapa detik hingga menampilkan logo dari benda pipih tersebut. Aneya menunggu dengan senang hati, layarnya kini menampilkan gambar latar seperti biasa. Jemarinya menggulir pelan bagian pesan hingga mendapat nama kontak Ravin. Ruang obrolan itu kini menampilkan beberapa pesan dari pria tersebut, Aneya mulai menaruh fokus untuk membaca pesan-pesan itu. “Aku sudah tiba di tempat semalam,” ujar Ravin pada pesan pertama. “Orang kepercayaanku tetap me
Mehr lesen