“Tentu saja, lebih cepat itu lebih baik,” jawab Ravin begitu yakin dengan kalimatnya. “Arya akan kau hadirkan juga?” tanya Aneya penuh selidik. “Sesuai perencanaan dan keputusanku, pria itu akan tetap hadir, dia adalah dalang sekaligus penjahat dari semua ini,” balas Ravin dengan rahang yang tampak sedikit menegang. “Keputusan bagus, aku penasaran dengan hari esok,” gumam Aneya pelan seraya menelisik netra pria tersebut. “Jangan terlalu dipikirkan. Kue di depanmu terlihat lezat, sangat rugi jika terlewatkan begitu saja,” kata Ravin sekaligus menyarankan Aneya tak lupa dengan senyum simpul yang diberikan. Aneya melepaskan tautan pandangan yang berlangsung sambil mengangguk pelan. Ia setuju dengan kalimat yang diucapkan pria itu, ia hampir saja tidak menyentuh kue brownies itu sepenuhnya jika Ravin tidak membuka suara, mereka terlalu larut dalam percakapan yang serius. Ia mengambil satu keping yang sudah dipotong, satu hal yang ia tahu bahwa potongan-potongan pada kue browni
Read more