Aneya mulai mengetuk pintu, sedangkan Ravin sudah melesat pergi. Sambil meringis pelan, ia berharap salah satu dari kedua orang tuanya segera membukakan pintu, ia sudah tidak sabar untuk segera membersihkan sisa-sisa keringat dari momen kenikmatan bersama Ravin. Pintu terbuka perlahan, membuat Aneya mengambil sedikit langkah untuk mundur. Tepat di hadapannya berdiri wanita paruh baya yang sedang memegang sendok sayur dengan beberapa peluh menghias di dahi. Ia bisa menebak aktivitas yang tengah dilakukan ibunya sebelum membukakan pintu. “Sudah pulang rupanya. Ayo, nak, masuk, di luar hawanya cukup dingin dan tidak baik untuk tubuh,” imbuh Ibunya sambil mempersilakan masuk. Aneya melenggang dengan langkah sedikit tertatih, berharap ibunya tidak memperhatikan hal tersebut. Ia mencoba memperbaiki badannya agar tetap tegap, walaupun kakinya mulai terasa lemas. “Ibu sedang memasak apa?” tanya Aneya berusaha membuka percakapan. “Hanya beberapa menu sederhana,” jawab Ibunya sambil m
Read more