“Ravin, aku tidak bisa … menahannya,” jawab Aneya terbata-bata dengan mata yang sayu. “Sebut namaku dalam setiap rintihanmu, jika sampai kau melanggar perintahku untuk menahannya, aku tidak akan segan memberimu hukuman,” sahut Ravin dengan nada yang dalam dan dominan. Aneya semakin dibutakan oleh nafsu yang menguasai badan dan pikirannya. Nama pria itu tidak berhenti berkumandang dari bibirnya, gerakan dan sentuhan dari Ravin tidak pernah gagal dalam mendominasi. Ia bisa merasakan sesuatu yang akan meledak di bawah sana. “Lepaskan semuanya, Aneya!” pinta Ravin semakin mempercepat hentakan kedua jari di dalam liang kenikmatannya. Mendengar perintah itu, sontak saja Aneya membanjiri kedua jari milik Ravin dengan cairan hasrat yang sudah menguasainya sedari tadi, lenguhan panjang akan nama pria itu juga ikut keluar. Dadanya naik turun dengan pelan, mencoba membuat stabil pernapasannya, ia kembali dipuaskan oleh Ravin. Dengan mata yang berat, ia bisa menangkap siluet Ravin denga
Read more