“Maksudmu seperti apa?” tanya Aneya dengan nada serius. “Pengacara yang kupanggil memang cukup dekat denganku. Namun, kami tidak memiliki hubungan seperti yang kau bayangkan. Lagi pula, dia seorang pria, bukan wanita. Maafkan aku. Bagaimanapun juga, aku tetap salah karena menyampaikan semuanya dengan cara yang bisa membuatmu salah paham,” jelas Ravin tanpa ragu. Aneya terdiam, bibirnya perlahan terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar. Matanya terbelalak, sementara rasa panas menjalar hingga ke pipinya. Jemarinya yang menggenggam ponsel mengendur pelan. Andai saja lantai kamarnya bisa menelan dirinya saat itu juga, mungkin ia tidak akan berpikir dua kali untuk menghilang. Rasa malu yang sempat mereda kembali memenuhi wajahnya, bahkan jauh lebih hebat daripada sebelumnya. “Astaga, aku juga minta maaf atas rasa cemburuku yang tiba-tiba seperti ini,” sesal Aneya menundukan wajah sambil memegang pelipisnya. “Kau tidak salah, wajar bagimu jika cemburu denganku, sudah sem
اقرأ المزيد