MasukMatahari pagi menempel di pagar besi keluarga Alberto seperti lampu yang tak mau padam. Di ujung jalan, sebuah mobil berhenti. Isabela membuka pintu, menurunkan sebuah koper usang dan satu bungkus plastik. Di atasnya hanya selembar kertas resmi: surat nikah dan kartu identitas yang basah sedikit karena hujan semalam.
Tidak ada pelukan perpisahan.
Tidak ada air mata yang diusap oleh tangan yang sayang.
Hanya tiga orang yang menatap dari dalam mobil, lalu pergi meninggalkan Isabela di tepi jalan seperti sesuatu yang tidak lagi berguna.
Isabela berdiri dengan tubuh gemetar, walaupun bukan keinginannya—mungkin ini sisa ketakutan si pemilik asli tubuh, walau sudah tidak berada di sana lagi.
Isabela menatap penampilannya sejenak. Bajunya kusam, rambutnya masih lembap dari perjalanan panjang.
Ya Tuhan! Bagaimana dia bisa bertahan hidup dalam semua ini, gumamnya dalam hati, kasihan pada hidup si pemilik asli tubuh itu. Ya, walaupun si pemilik tubuh telah pergi, semua ingatan, kenangan, kesedihan, kepedihan, bahkan amarahnya masih bisa ia rasakan. Ia bahkan tahu alasan mengapa si pemilik tubuh ini memilih mengakhiri hidup.
“Akan kubalaskan dendam kita. Tenang saja,” gumam Isabela pelan sambil memegang surat nikah itu dengan sungguh-sungguh. Sebab, itulah tiket masuk ke dunia baru yang mungkin saja bisa menghantarkannya persis ke hadapan pembunuh dirinya.
Isabela mengangkat kepala. Gerbang keluarga Alberto terbuka, seolah memang sedang menunggu kedatangan tamu.
Isabela melangkah maju dengan penuh percaya diri, walaupun penampilannya sama sekali tidak mendukung untuk itu.
Tidak ada yang menjemput. Tidak ada yang mengantar sampai pintu. Wah! Takdir apa yang sebenarnya Tuhan berikan untukmu, Zenia? Kenapa nasibmu begitu malang? Ya, walaupun tidak semalang nasibku, celetuknya dalam hati.
Isabela melangkah melewati pagar seperti seseorang yang sedang menimbang antara malu dan kebutuhan.
Di halaman, beberapa pegawai berdiri teratur. Mereka memandangnya sebentar, lalu kembali menatap tanah, seolah cacing di lapisan terdalam tanah itu seribu kali lebih enak dipandang daripada wajahnya.
Isabela terus melangkah masuk. Langkahnya mengeluarkan bunyi pada kerikil yang menghampar di jalan masuk. Setiap bunyi itu terasa seperti hitungan mundur. Ia menarik napas pendek, menekan perasaan yang tak jelas ke mana arahnya.
Sesampainya di dalam, Zenia—Isabela menghitung orang-orang yang menatapnya dengan remeh.
Di ruang tamu besar, lampu masih meredup. Aroma kopi dan kertas papan rapat menyatu dengan hawa dingin dari AC. Ayah Kenzo duduk di kursi utama. Ibu Kenzo berdiri di samping meja, kedua tangan disilangkan. Mereka menatap Zenia dengan kombinasi antara pasrah dan penyesalan, seperti orang yang menerima barang yang tidak sesuai pesanan. Jelas tidak ada kegembiraan di sana. Yang ada hanyalah kalkulasi. Kalau bukan karena wasiat kakek Kenzo dan keadaan Kenzo saat ini maka tidak mungkin pernikahan ini mereka setujui.
Di ujung ruangan, di atas tempat tidur empuknya, Kenzo tampak tak bergeming menonton melalui layar ponselnya dari kamarnya. Kamera yang dipasang di ruang tamu mengirim gambar secara langsung. Ia melihat gerak bibir orang-orang yang telah lama ia kenal. Ia melihat sorot mata mereka ketika menyelinap pada tubuh yang baru datang itu. Ia melihat pula wajah wanita yang kini berstatus istrinya, yang digendong tak sempurna oleh takdir alam dan manusia.
Ibu Kenzo menghela napas panjang. Suaranya tertahan beberapa detik sebelum keluar.
“Kami tidak berharap apa-apa darimu,” katanya pelan, nadanya menempel pada kata pasrah. “Kami hanya berharap kau bisa menjaga nama baik suamimu. Karena dengan cara itu, kau juga menjaga nama baik keluarga Alberto. Apa kau mengerti?”
Isabela menunduk. Ia menimbang kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
Ibu mertua Zenia melanjutkan, suaranya berubah sedikit menjadi menguji. “Ada apa, Zenia? Apa permintaanku terlalu sulit? Kau bisa, kan, menjaga nama baik keluarga suamimu? Itu penting. Jangan sampai… ada hal yang membuat kami malu,” tambahnya, terdengar sungkan.
Membuat malu. Dua kata itu jatuh seperti batu ke dalam air, menimbulkan gelombang kecil yang mengenai pipi Zenia. Ia menelan ludah. Di dalam dirinya, Isabela merasakan setiap goresan itu, seperti jarum halus yang menusuk luka lama. Isabela ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa ia tidak akan menjadi beban. Namun sebelum kata-kata itu lolos dari mulutnya, datang suara lain.
Dua langkah ringan, diiringi tawa halus berbau khas pembulian. Adik perempuan Kenzo, dengan wajah jutek dan jelas tidak menyukai Zenia, muncul di ambang pintu. Di belakangnya, seorang laki-laki yang lebih tua berdiri dengan tangan disilangkan. Wajah mereka menunjukkan lebih dari sekadar rasa ingin tahu. Ada penghinaan yang diselimuti tawa kecil yang sama sekali tidak mereka sembunyikan.
“Memang apa yang Ma harapkan dari perempuan kampungan seperti dia?” tanya adik perempuan Kenzo yang bernama Lidya dengan nada menusuk. “Lihatlah. Ma saja sudah bicara baik-baik padanya. Tapi karena memang kurang tata krama, dia mengacuhkan Ma. Issh! Mungkin memang tidak ada yang bisa diharapkan,” celetuknya kasar.
Suara tawa pendek menyusul. Adik laki-laki Kenzo, yang nadanya selalu menyimpan celaan, menambahkan, “Dengar-dengar dia ini hanya gadis desa yang biasa main dengan sapi. Orang-orang seperti itu jarang bisa menjaga rumah besar, Ma. Apa yang bisa ia beri pada Kak Kenzo selain badan untuk dipakai?”
Kata-kata itu jatuh. Ruangan menjadi dingin. Setiap kalimat terasa seperti kristal tajam. Isabela menggenggam surat nikahnya, seolah berpegangan pada batu. Di dalam dirinya, ia merasakan kemarahan lama Zenia bangkit kembali—rasa ditinggalkan, rasa yang dulu mendorong Zenia memilih jalan paling mengerikan: mati untuk pertama kalinya.
Kenzo menonton. Layar ponsel menunjukkan setiap gerak. Ia melihat ibunya berbicara dan menyaksikan adik-adiknya menertawakan Zenia. Dan yang menjadi fokus Kenzo adalah wajah Zenia yang tidak menunjukkan banyak reaksi. Ia merasakan sesuatu seperti getaran di dadanya. Bukan rasa kasihan. Bukan pula simpati. Ini lebih seperti keheranan. Ia jarang melihat seseorang yang diperlakukan seperti sampah masih bisa berdiri setenang itu. Ia tidak tahu apakah itu keteguhan karena terbiasa terbuang, atau sesuatu yang lain.
Isabela menunduk, lalu mengangkat wajah perlahan. Matanya tidak kosong. Ada sesuatu yang menahan ledakan. Isabela yang kini bercokol di tubuh itu memperhatikan setiap detail, menyimpan nama-nama, memetakan kelemahan.
Seorang pelayan membawa secangkir teh. Uapnya mengepul tanpa membuat siapa pun bergerak. Di antara ejekan dan pertanyaan itu, Isabela akhirnya bicara. Suaranya kecil. Tidak manis. Tidak kasar. Hanya padat.
“Ma tenang saja. Aku pasti akan menjaga nama baik keluarga ini,” katanya. “Itu tugasku sekarang,” ujarnya sambil mengambil secangkir teh dari tangan pelayan.
Kata-kata itu terasa seperti pengikat. Ibu Kenzo mengernyit, sedikit puas meski masih ragu. Sementara adik-adiknya saling pandang, tidak percaya bahwa si kampungan bisa berbicara setenang dan sekelas itu.
Pintu lift tertutup dengan bunyi halus.Isabela berdiri sendirian di dalamnya, bahu tegak, wajah tenang. Pantulan dirinya di dinding logam memperlihatkan sosok perempuan yang sama sekali berbeda dari Zenia yang dikenal banyak orang. Tidak ada lagi mata sendu. Tidak ada lagi tubuh meringkuk. Yang ada hanya ketenangan seseorang yang sudah mati sekali dan tidak takut jatuh untuk kedua kalinya.Begitu lift terbuka di lantai direksi, suasana langsung berubah.Koridor itu sunyi, dingin, dan terlalu rapi. Aroma kopi mahal bercampur pendingin ruangan yang menusuk. Dari balik pintu kaca di ujung koridor, suara rapat terdengar samar. Nada Rafi terdengar jelas. Sedikit tinggi. Sedikit tertekan.Isabela tersenyum kecil."Ah. Masih panas rupanya."Tanpa ragu, ia melangkah ke pintu ruang rapat. Tidak mengetuk. Tidak permisi. Ia mendorong pintu dan masuk begitu saja.Beberapa kepala langsung menoleh.Rafi yang sedang berdiri di depan layar presentasi membeku di tengah kalimat. Wajahnya berubah warna
Kenzo menurunkan tangannya setelah mentoyor kening Isabela.“Fokus,” katanya datar. “Kau akan bekerja. Bukan membuka cabang baru di dunia hiburan.”Isabela mendengus, mengusap keningnya. “Aku baru tahu kalau kau itu sangat cerewet, tuan muda Alberto.”“Berisik,” balas Kenzo tanpa dosa.Walaupun Kenzo bersikap dingin dan ketus, namun tetap saja, ia menyuruh asistennya untuk membayar seluruh pakaian yang ia pilih tanpa sekalipun melirik harga.Isabela memperhatikan itu dalam diam. Pria ini memang tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya selalu… penuh klaim.Saat mereka keluar butik, Isabela melirik jam. “Aku rasa kita sudah hampir terlambat. Bukan kah kau mengatakan aku harus datang jam 11 ke perusahan?”Kenzo sudah mendorong kursi rodanya menjauh. “Benar sekali. Kau sudah hampir terlambat. Jadi James akan mengantarkanmu untuk ke perusahan sekarang juga.“Lalu kau? Apa kau tidak ikut?” tanya Isabela cepat. Dia mengira Kenzo akan mengantarkan di hari pertama dia masuk kerja.“Aku? Ke
Lampu kamar masih redup ketika Isabela terbangun.Bukan oleh alarm. Melainkan oleh suara halus hampir tak terdengar dari roda kursi yang bergerak pelan.Ia membuka mata setengah, lalu memicingkannya. "Apa Kenzo sudah bangun?" batinnya.Tapi saat Isabela membuka matanya sempurna, ternyata pria itu bukan sekadar bangun tapi sudah rapi.Kemeja gelap tersetrika sempurna. Jam tangan terpasang. Rambutnya tersisir tanpa satu helai pun membangkang. Ia sedang mengancingkan manset dengan wajah setenang orang yang tidak pernah punya masalah hidup.Isabela mengerjap, lalu mendesah.“Selamat pagi tuan muda Alberto,” gumamnya sambil menarik selimut lebih tinggi. “Cepat sekali kau bangun pagi ini?”Kenzo meliriknya sekilas. Dan dengan suara datar dia menjawab.“Bukan aku yang bangun cepat tapi kau yang bangun lambat.”Isabela reflek manyun. Jelas dia tersentil dengan kata-kata Kenzo. Lagi pula, istri dibelahan dunia mana yang bangun lebih lambat dari suaminya. Dimana-mana, istri yang bangun duluan,
Isabela menghembuskan napas pelan.Bukan napas lega. Melainkan napas seseorang yang tahu dirinya sedang berdiri di tepi jurang—dan tetap melangkah maju.“Entahlah,” jawabnya akhirnya. Suaranya tidak dibuat-buat. “Aku tidak tahu apakah Tuan Muda Alberto akan membantuku atau tidak.”Kenzo tidak langsung menanggapi.Tatapannya tetap dingin, lurus, seolah kalimat itu hanyalah angin lewat.Isabela melanjutkan, sedikit lebih lirih.“Tapi orang-orang tua dahulu selalu berkata,” ucapnya pelan, “kalau berbuat baik itu tidak boleh setengah-setengah.” sambungnya sambil mengangkat bahu kecil.“Mengingat Tuan Muda sudah dua kali menolongku… kenapa tidak sekali lagi?”Kenzo mengangkat alisnya perlahan.Gerakan kecil. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia sadar—wanita ini sedang menekan titik tertentu.Isabela melangkah lebih dekat dan menatap Kenzo dengan puppy eyesnya. Berharap ini akan berhasil.“Tatapanmu tidak cukup,” katanya akhirnya, dingin dan tenang, “untuk membuatku berkata iya.”Nada itu
Isabela baru merasa dadanya benar-benar sesak bukan saat ia duduk di ruang tamu keluarga Ramlan,melainkan saat mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Baru beberapa menit lalu ia berdiri tegak, bicara dingin, mengatur syarat, bahkan menggertak balik.Sekarang, tangannya mencengkeram tas lebih erat dari perlu."Bagaimana caranya aku membujuk manusia es itu…"Isabela menutup mata sejenak."Kalau langsung bicara bisnis, aku mati sebelum membuka mulut."Ia membuka mata lagi, menatap lurus ke depan."Entahlah! Kita lihat saja nanti." Putusnya sedikit pasrah pada cara Tuhan akan membimbingnya untuk mendapatkan kata YA dari Kenzo.***Meja makan malam terasa lebih ramai dari biasanya.Matteo dan Victoria duduk di kepala meja seperti biasa. Rafi masih membawa map proyek—kali ini hanya dibuka setengah hati. Lidya mengunyah pelan, matanya berkedip-kedip seperti sedang menonton drama gratis.Dan di antara semuanya—Isabela.Terlalu rajin.Terlalu perhatian.Terlalu… mencurigakan.“Sayang, mau
Rumah keluarga Ramlan tidak pernah benar-benar hangat.Bukan karena dingin, melainkan karena setiap sudutnya selalu dipenuhi perhitungan.Siang itu, matahari tepat di atas kepala. Cahaya jatuh lurus ke ruang tamu yang terlalu rapi, seolah kebersihan bisa menutupi kebusukan niat di dalamnya.Arman Ramlan duduk di sofa utama dengan jas masih melekat di tubuhnya, meski tidak ke mana-mana. Ratna berdiri di dekat jendela, tangan terlipat, wajahnya tegang. Olivia duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memainkan ponsel, seolah nasib perusahaan keluarga ini bukan urusannya.Keheningan pecah lebih dulu oleh suara Arman.“Aku tidak terkejut,” katanya datar. “Sejak awal aku sudah tahu, menikahkan Zenia ke keluarga Alberto tidak akan memberi kita apa-apa.”Ratna menoleh, nada suaranya dingin. “Dia selalu begitu. Tidak pernah benar-benar berguna.”Olivia tersenyum tipis. “Sejak kecil juga, Ayah. Terlalu sibuk merasa jadi korban sampai lupa berpikir logis.”Arman mengangguk pelan. “Menantu keluarga







