Masuk
Senja di kota Athena selalu indah, warna oranye keemasan yang memantul di gedung-gedung tinggi dan menerangi seluruh kota seperti karpet cahaya. Dan di tengah kilau itu, satu nama paling bersinar, satu sosok yang membuat investor tunduk dan lawan bisnis gentar: Isabela Manik.
Wanita itu berdiri di balik kaca kantor lantai tiga puluh, menatap dunia yang telah ia bangun dengan tangannya sendiri. Rambut hitamnya jatuh rapi di bahu, matanya tajam namun lelah. Sudah berbulan-bulan ia bekerja tanpa jeda, tidak karena ambisi semata, tetapi karena firasat yang sejak lama mengusik:
Namun sore itu, ia mencoba menenangkan hati.
Kau terlalu curiga, Bella, katanya dalam hati. Tidak semua orang ingin menjatuhkanmu.
Ia bahkan tidak sadar bahwa hari itu memang akan menjadi hari terakhirnya sebagai Ratu Bisnis Athena.
Ketukan pintu memecah lamunannya.
“Masuk,” ucap Bella tanpa menoleh.
Angkasa Wijaya melangkah masuk dengan langkah ringan. Setelan abu-abunya tampak sempurna, senyum hangatnya seolah mampu meruntuhkan tembok terdingin.
“Untukmu,” ujarnya lembut. “Kau tidak berhenti bekerja sejak pagi.”
Bella menerima gelas itu. “Terima kasih. Kau selalu tahu kapan aku butuh kopi.”
Angkasa tertawa kecil. “Karena aku memperhatikanmu.”
Kalimat itu membuat Bella menoleh, menatap pria yang sudah ia kenal bertahun-tahun. Mata Angkasa begitu lembut, seolah tak sanggup menyakiti siapa pun. Dan untuk sesaat, Bella merasa bersalah telah meragukannya.
“Jadi, kau sudah siap besok?” tanya Angkasa sambil bersandar di meja.
“Untuk merger?” Bella tersenyum. “Kau tahu, aku lahir untuk momen seperti itu, kan?” ucapnya dengan sedikit sombong.
“Benar. Dan semua ini… akan menjadi milik kita.” Angkasa mengangkat tangannya, menyentuh pipi Bella pelan.
Bella terdiam.
Ada dentingan halus, suara gelas kopi yang bergetar di meja.
Atau mungkin itu hanya jantungnya sendiri.
“Angkasa,” bisiknya, “kau benar-benar… berada di sisiku, kan?”
Bukan tanpa alasan dia bertanya. Selama sebulan terakhir, Bella menerima laporan-laporan aneh: pembocoran strategi perusahaan, pergerakan saham yang tampak diatur seseorang, dan bayangan nama Angkasa yang terus muncul dalam dokumen-dokumen itu.
Namun Bella menepis semua itu. Ia terlalu mencintai pria itu. Ia percaya padanya sepenuhnya.
Angkasa tersenyum. “Tentu, Bella. Selalu.” ucapnya dan meraih tangan Bella.
Hangat. Menenangkan. Meyakinkan.
Namun pada saat yang sama, sesuatu di dalam Bella terasa… salah. Insting bisnisnya—insting yang membuatnya jadi pemimpin termuda di Athena—berteriak bahwa ia sedang berdiri terlalu dekat dengan bahaya.
Bahaya yang menyamar sebagai kasih sayang.
Bukan dia tidak me-warning dirinya. Tapi cinta mematikan alarm dalam dirinya.
***
Malam mulai turun ketika Bella akhirnya memutuskan pulang. Ia masuk ke dalam mobilnya, mengenakan sabuk pengaman, dan menghela napas panjang.
“Satu hari lagi,” gumamnya. “Setelah merger selesai, semuanya akan stabil. Aku janji akan mengurus pernikahanku secepatnya dengan Angkasa.”
Ponselnya berbunyi. Dan nama Angkasa tertulis di sana.
Bella tersenyum dan mengangkatnya.
“Hm?”
“Hati-hati di jalan, Bella,” suara Angkasa terdengar hangat.
“Kau terlalu khawatir,” Bella tertawa kecil.
“Tentu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Kata-kata itu terasa manis… tapi ada sesuatu yang aneh. Rasanya suara Angkasa terlalu tenang… dan terlalu terkendali.
Lalu terdengar bunyi ringan—klik—diikuti suara samar yang tidak seharusnya ada dalam panggilan telepon.
Seperti seseorang menutup sesuatu. Atau mungkin mengatur sesuatu.
“Aku akan tiba dalam dua puluh menit,” kata Bella.
“Baik. Sampai jumpa.”
Telepon pun terputus.
Bella memandang jalan yang sepi malam itu. Lampu-lampu kota Athena memantul di kaca depan mobil. Ia menginjak gas perlahan, mencoba menghilangkan rasa gelisah yang tidak jelas dari mana sumbernya.
Namun ketika mobil memasuki terowongan, getaran halus terasa di bawah kursi.
“…apa ini?”
Namun sayangnya sedetik berikutnya, dunia Bella meledak.
Suara dentuman memekakkan telinga. Cahaya putih membutakan. Mobil terpelanting, menabrak dinding beton. Sabuk pengaman menghantam dada Bella, membuatnya sulit bernapas. Segalanya terjadi terlalu cepat, namun sekaligus seperti gerakan lambat dalam mimpi buruk.
Kepalanya terantuk.
Bella terhuyung, mencoba membuka pintu mobil. Ia batuk, darah memenuhi mulutnya.
“T… tolong…”
Tapi tidak ada siapa pun di sana.
Lampu-lampu terowongan berkelip, kehilangan daya. Dan asap tebal menyelimuti mobilnya.
Bella tersungkur, tubuhnya mulai terasa dingin. Ia meraih ponsel, namun pandangannya gelap.
Dalam kabut setengah sadar itu, ia melihat seseorang berdiri di ujung terowongan.
Siluet seorang pria dan wanita.
Berjalan tenang. Dan jelas mereka tidak berlari untuk menolongnya.
“Ang… k… sa…” gumamnya.
Dan sebelum segalanya menghilang, ia melihat sesuatu yang menusuk jantungnya lebih dalam daripada pecahan kaca di tubuhnya:
Senyuman.
Dingin.
Senyuman terakhir yang dilihat Isabela Manik sebelum hidupnya padam.
***
Kegelapan menyambutnya seperti selimut es.
Suara detak jantung melambat.
Apa aku mati…?
Beginikah akhirnya? Dalam pengkhianatan?
Isabela ingin berteriak.
Namun kelopak matanya terpejam sebelum sempat berkata apa pun.
Hening.
Lalu…
Dari kehampaan itu, suara baru muncul. Jauh, tapi jelas.
“Zenia! Bangun! Jangan pura-pura mati, ya!!”
Bella—atau siapa pun ia sekarang—perlahan membuka matanya.
Saat ia melihat sekelilingnya, jelas ini bukan di terowongan.
Tapi perubahan tempat yang membuatnya bingung bercampur heran saat ini tidak ada artinya ketika ia menyadari bahwa ia terbangun bukan di dalam tubuhnya sendiri.
“Di mana ini?” gumamnya, masih mencoba meraba situasi yang tak ia kenali.
Saat ini jelas ia berada di sebuah kamar kecil berbau tanah, dengan seorang wanita berwajah dingin berdiri di atasnya.
“Cepat! Apa kau pikir dengan lompat ke dalam kolam dangkal itu kau akan mati dan aku tidak akan jadi mengantarkanmu ke depan gerbang rumah keluarga Alberto? Jangan terlalu banyak berkhayal, Zenia! Kau sudah menikah dengan si lumpuh Kenzo itu! Jadi tempatmu bukan di sini! Lagi pula, kan sudah aku bilang, kau hanya transit sesaat di sini dari rumah kumuhmu di desa sebelum aku mengantarkanmu ke rumah suamimu yang cacat itu!”
“ZENIA???” pekik Bella dalam hati, membuat matanya terbelalak.
“Menikah?”
“Kenzo? Kenzo Alberto? Musuh bebuyutanku??”
Secepat kilat Bella bangun dan berlari mencari cermin atau apa pun untuk melihat wajahnya saat ini.
“Tidak mungkin aku hidup lagi tapi di tubuh orang lain, kan? Ini terlalu novel untuk menjadi sebuah kenyataan!”
Namun semua celetukan itu seolah menamparnya saat ia melihat wajahnya di cermin lusuh di kamar itu.
“Ini…?” serunya bingung sambil menyentuh wajahnya sendiri, menyadari tubuh yang bukan miliknya.
“Astaga… ternyata benar! Aku hidup kembali!”
Dan orang pertama yang menatapnya dengan kebencian—bukan musuh, melainkan keluarga barunya:
Olivia Ramlan, adik tiri Zenia Ramlan.
Pintu lift tertutup dengan bunyi halus.Isabela berdiri sendirian di dalamnya, bahu tegak, wajah tenang. Pantulan dirinya di dinding logam memperlihatkan sosok perempuan yang sama sekali berbeda dari Zenia yang dikenal banyak orang. Tidak ada lagi mata sendu. Tidak ada lagi tubuh meringkuk. Yang ada hanya ketenangan seseorang yang sudah mati sekali dan tidak takut jatuh untuk kedua kalinya.Begitu lift terbuka di lantai direksi, suasana langsung berubah.Koridor itu sunyi, dingin, dan terlalu rapi. Aroma kopi mahal bercampur pendingin ruangan yang menusuk. Dari balik pintu kaca di ujung koridor, suara rapat terdengar samar. Nada Rafi terdengar jelas. Sedikit tinggi. Sedikit tertekan.Isabela tersenyum kecil."Ah. Masih panas rupanya."Tanpa ragu, ia melangkah ke pintu ruang rapat. Tidak mengetuk. Tidak permisi. Ia mendorong pintu dan masuk begitu saja.Beberapa kepala langsung menoleh.Rafi yang sedang berdiri di depan layar presentasi membeku di tengah kalimat. Wajahnya berubah warna
Kenzo menurunkan tangannya setelah mentoyor kening Isabela.“Fokus,” katanya datar. “Kau akan bekerja. Bukan membuka cabang baru di dunia hiburan.”Isabela mendengus, mengusap keningnya. “Aku baru tahu kalau kau itu sangat cerewet, tuan muda Alberto.”“Berisik,” balas Kenzo tanpa dosa.Walaupun Kenzo bersikap dingin dan ketus, namun tetap saja, ia menyuruh asistennya untuk membayar seluruh pakaian yang ia pilih tanpa sekalipun melirik harga.Isabela memperhatikan itu dalam diam. Pria ini memang tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya selalu… penuh klaim.Saat mereka keluar butik, Isabela melirik jam. “Aku rasa kita sudah hampir terlambat. Bukan kah kau mengatakan aku harus datang jam 11 ke perusahan?”Kenzo sudah mendorong kursi rodanya menjauh. “Benar sekali. Kau sudah hampir terlambat. Jadi James akan mengantarkanmu untuk ke perusahan sekarang juga.“Lalu kau? Apa kau tidak ikut?” tanya Isabela cepat. Dia mengira Kenzo akan mengantarkan di hari pertama dia masuk kerja.“Aku? Ke
Lampu kamar masih redup ketika Isabela terbangun.Bukan oleh alarm. Melainkan oleh suara halus hampir tak terdengar dari roda kursi yang bergerak pelan.Ia membuka mata setengah, lalu memicingkannya. "Apa Kenzo sudah bangun?" batinnya.Tapi saat Isabela membuka matanya sempurna, ternyata pria itu bukan sekadar bangun tapi sudah rapi.Kemeja gelap tersetrika sempurna. Jam tangan terpasang. Rambutnya tersisir tanpa satu helai pun membangkang. Ia sedang mengancingkan manset dengan wajah setenang orang yang tidak pernah punya masalah hidup.Isabela mengerjap, lalu mendesah.“Selamat pagi tuan muda Alberto,” gumamnya sambil menarik selimut lebih tinggi. “Cepat sekali kau bangun pagi ini?”Kenzo meliriknya sekilas. Dan dengan suara datar dia menjawab.“Bukan aku yang bangun cepat tapi kau yang bangun lambat.”Isabela reflek manyun. Jelas dia tersentil dengan kata-kata Kenzo. Lagi pula, istri dibelahan dunia mana yang bangun lebih lambat dari suaminya. Dimana-mana, istri yang bangun duluan,
Isabela menghembuskan napas pelan.Bukan napas lega. Melainkan napas seseorang yang tahu dirinya sedang berdiri di tepi jurang—dan tetap melangkah maju.“Entahlah,” jawabnya akhirnya. Suaranya tidak dibuat-buat. “Aku tidak tahu apakah Tuan Muda Alberto akan membantuku atau tidak.”Kenzo tidak langsung menanggapi.Tatapannya tetap dingin, lurus, seolah kalimat itu hanyalah angin lewat.Isabela melanjutkan, sedikit lebih lirih.“Tapi orang-orang tua dahulu selalu berkata,” ucapnya pelan, “kalau berbuat baik itu tidak boleh setengah-setengah.” sambungnya sambil mengangkat bahu kecil.“Mengingat Tuan Muda sudah dua kali menolongku… kenapa tidak sekali lagi?”Kenzo mengangkat alisnya perlahan.Gerakan kecil. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia sadar—wanita ini sedang menekan titik tertentu.Isabela melangkah lebih dekat dan menatap Kenzo dengan puppy eyesnya. Berharap ini akan berhasil.“Tatapanmu tidak cukup,” katanya akhirnya, dingin dan tenang, “untuk membuatku berkata iya.”Nada itu
Isabela baru merasa dadanya benar-benar sesak bukan saat ia duduk di ruang tamu keluarga Ramlan,melainkan saat mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Baru beberapa menit lalu ia berdiri tegak, bicara dingin, mengatur syarat, bahkan menggertak balik.Sekarang, tangannya mencengkeram tas lebih erat dari perlu."Bagaimana caranya aku membujuk manusia es itu…"Isabela menutup mata sejenak."Kalau langsung bicara bisnis, aku mati sebelum membuka mulut."Ia membuka mata lagi, menatap lurus ke depan."Entahlah! Kita lihat saja nanti." Putusnya sedikit pasrah pada cara Tuhan akan membimbingnya untuk mendapatkan kata YA dari Kenzo.***Meja makan malam terasa lebih ramai dari biasanya.Matteo dan Victoria duduk di kepala meja seperti biasa. Rafi masih membawa map proyek—kali ini hanya dibuka setengah hati. Lidya mengunyah pelan, matanya berkedip-kedip seperti sedang menonton drama gratis.Dan di antara semuanya—Isabela.Terlalu rajin.Terlalu perhatian.Terlalu… mencurigakan.“Sayang, mau
Rumah keluarga Ramlan tidak pernah benar-benar hangat.Bukan karena dingin, melainkan karena setiap sudutnya selalu dipenuhi perhitungan.Siang itu, matahari tepat di atas kepala. Cahaya jatuh lurus ke ruang tamu yang terlalu rapi, seolah kebersihan bisa menutupi kebusukan niat di dalamnya.Arman Ramlan duduk di sofa utama dengan jas masih melekat di tubuhnya, meski tidak ke mana-mana. Ratna berdiri di dekat jendela, tangan terlipat, wajahnya tegang. Olivia duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memainkan ponsel, seolah nasib perusahaan keluarga ini bukan urusannya.Keheningan pecah lebih dulu oleh suara Arman.“Aku tidak terkejut,” katanya datar. “Sejak awal aku sudah tahu, menikahkan Zenia ke keluarga Alberto tidak akan memberi kita apa-apa.”Ratna menoleh, nada suaranya dingin. “Dia selalu begitu. Tidak pernah benar-benar berguna.”Olivia tersenyum tipis. “Sejak kecil juga, Ayah. Terlalu sibuk merasa jadi korban sampai lupa berpikir logis.”Arman mengangguk pelan. “Menantu keluarga







