Jennar berdiri terpaku di depan deretan gulungan kain yang tersusun rapi, warnanya berlapis-lapis seperti palet pelangi. Ujung jarinya bergerak pelan menyusuri permukaan brokat yang berkilau di bawah lampu toko. Teksturnya lembut, dingin, dan halus, sangat berbeda dengan kain-kain murah yang biasa ia temui di kios pinggir jalan.Hari itu, ia datang bersama Priska, menyusuri lorong pasar tekstil dekat rumah. Bukan butik mewah, hanya deretan kios kain yang padat dan riuh.Dengan dana terbatas, Jennar memilih menyiapkan semuanya sendiri. Kebetulan, di tangan Priska—yang dulu pernah menjadi penjahit andalan di masa mudanya—kebaya pertunangan itu akan lahir, bukan dari mesin pabrik, tapi dari kasih seorang ibu.“Ma,” panggil Jennar lirih, matanya berbinar. “Yang itu, brokatnya bagus banget.”Ia mendekat, meraba kain itu dengan hati-hati, seolah takut merusak kilauannya. “Tuh, kan. Halus banget, Ma. Biasanya brokat kasar.”Priska ikut menyentuhnya, ujung jarinya menekan, meremas sedikit, la
Last Updated : 2026-01-21 Read more