“Jadi,” Birru akhirnya bicara, suaranya rendah, nyaris berbisik, seolah takut merusak suasana. Pelukannya mengendur, tapi telapak tangannya masih tertahan di punggung Jennar. “Kita pacaran, Sayang?” Kata terakhir itu ia ucapkan dengan tekanan kecil, ragu sekaligus berharap. Seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya, tapi tetap butuh mendengar kepastian. Jennar mendongak. Alisnya terangkat, “Perlu banget kamu tanya itu, Ru?” Birru terkekeh pelan. Tangannya terangkat, menyelipkan anak rambut Jennar ke belakang telinga, sebuah gerakan sederhana, tapi penuh kepemilikan yang hangat. “Aku cuma nggak mau salah mengira,” katanya jujur. “Dan aku mau semuanya jelas malam ini.” Hening sesaat. Hanya dengung mesin mobil yang masih menyala dan lampu basement yang memantul di kaca depan. Jennar menatap mata Birru, lalu tersenyum lembut. “Iya, Birru Sagara, kita pacaran,” ucapnya sambil mengusap rahang Birru. Seolah tak ingin kehilangan detik itu, Birru langsung meraih tangan Jennar. Jarinya
최신 업데이트 : 2025-12-26 더 보기