Wendy sempat mengira urusan mereka sudah selesai, uang dan jasa sama-sama tuntas.Namun, Ferran sepertinya tidak menganggap begitu.Meski pikiran kacau, dia juga ikut tertidur di dalam pelukan Ferran.Saat terbangun, kepalanya terasa berat, tenggorokan pun semakin sakit. Gejala flu yang dialaminya bukannya mereda, justru malah memburuk.Dia hendak bangun, tapi Ferran langsung menahan bahunya.“Tuan Ferran…” gumam Wendy linglung.“Baring. Kamu demam.”Ferran menyentuh dahinya. Kepalanya panas menyengat, seluruh tubuhnya pun sangat panas seperti terbakar.Ternyata demam, pantas saja lemas. “Maaf, saya sudah merepotkan Anda. Saya pulang saja untuk minum obat.”“Pulang untuk minum obat? Di sini nggak bisa minum obat? Atau kamu kira aku akan kasih racun tikus sehingga kamu begitu takut?”Ferran menyibakkan rambut di sisi wajah Wendy, menyingkap pipi kecilnya.Wendy berkedip, lalu akhirnya berbisik, “Terima kasih sudah menerima saya, Tuan Ferran.”“Aku ambil obat dulu.”Ferran cepat-cepat me
Read more