Share

Cinta Sejati Pak Ferran
Cinta Sejati Pak Ferran
Author: LIlian

Bab 1

Author: LIlian
“Bunga statice melambangkan kebahagiaan. Ketika kamu datang padaku, aku akan melakukan apa pun untuk mengejarmu. Sebab, kebahagiaanku adalah dirimu, Wendy!” ujar Ferran.

“Jangan nakal…”

“Uhm….”

Pipi gadis tampak merah bak langit senja. Peluh tipis bermunculan di keningnya bagaikan butiran embun.

Bibir mungil si pria terangkat membentuk lengkungan memikat, sementara tubuhnya menempel lebih dekat.

“Suka?”

Suara laki-laki rendah, serak, dan penuh godaan. Jari-jemarinya yang panjang mencengkeram pinggang ramping sang gadis.

Siapa itu?

Wendy membuka mata yang buram oleh kabut mimpi. Sang pria menunduk dan memandangnya dari atas. Cahaya lampu di belakang kepala pria membentuk lingkar cahaya sehingga wajahnya samar tak terlihat jelas.

Beberapa detik berlalu.

Sang gadis mulai sadar. Wajah pria pun menjadi lebih jelas.

Kontur wajah tegas, alis tajam, mata gelap, hidung mancung, bibir tipis sedikit melengkung.

Dia… dia adalah…

Tit! Tit! Tit!

Wendy terbangun dengan kaget. Seketika dia menyadari dekor di sekelilingnya, kamar rumah sakit. Kenapa bisa bermimpi seperti itu?

Kenapa dia bisa bermimpi pria itu? Apa karena pria itu sudah pulang?

Di televisi, sebuah berita heboh sedang menjadi sorotan di dunia politik dan bisnis.

Pewaris Grup Hayes alias Ferran Hayes sudah pulang negeri dan resmi menjabat sebagai CEO.

Wendy memperhatikan berita ini bukan karena tertarik, melainkan karena Grup Hayes adalah saingan utama Grup Carter. Ferran dan Aiden pun bagaikan api dan air yang tidak pernah akur.

Wendy bekerja di Grup Carter, wajar sekali dirinya memerhatikan gerak-gerik saingan bisnis.

Akan tetapi, kenapa dia bisa bermimpi tentang pria itu bersamanya…

“Wendy, teleponmu berdering.”

Suara lembut Nyonya Martha memecah lamunannya.

“Nek, saya angkat telepon dulu.”

Saat melihat nama penelepon, alis Wendy mengernyit. Dia berjalan menjauh untuk mengangkat telepon.

“Antar tiga kotak kondom ke Hotel Imperial, kamar 606.”

Suara pria di seberang tegas, dingin, dan tak memberi ruang penolakan. Di sela suaranya, terdengar tawa manja seorang wanita.

Wendy terdiam sesaat, lalu perlahan berkata, “Tuan Aiden, apakah boleh lain kali saja? Saya sedang merawat nenek saya.”

Tangan sang wanita melingkari dada telanjang Aiden. Suaranya manja dan menusuk telinga. “Tuan Aiden, sepertinya dia nggak mau antar.”

Wajah Aiden seketika memuram. Dia mencengkram tangan nakal itu sambil memaki di telepon, “Dasar pembantu nggak tahu diri! Aku mau barang itu sampai di hadapanku dalam waktu setengah jam. Kalau nggak, angkat kakimu dari Grup Carter!”

“Tuan Aiden berwibawa sekali, jantan sekali…”

Ada pula suara-suara tak pantas didengar. Beberapa detik kemudian, telepon terputus.

Nyonya Martha dirawat di kamar paling ujung sehingga kelihatan kondisi luar bangunan. Hujan deras mengguyur, dahan-dahan pohon bergoyang tertiup angin.

Ini bukan pertama kalinya Aiden memerintah Wendy seenaknya. Wendy pun sudah sangat terbiasa.

Dia menyimpan ponsel, lalu kembali ke sisi nenek.

“Wendy, rumah sakit menagih biaya pengobatan lagi? Nenek bisa pulang saja…”

Nyonya Martha memandang cucunya yang tampak lelah itu dengan penuh iba.

Semua ini gara-gara kesehatannya yang tidak mendukung sehingga cucunya terpaksa harus bolak-balik rumah sakit dan kantor.

“Bukan, Nek. Bukan pihak rumah sakit yang telepon aku, tapi Tuan Aiden. Beliau minta saya mengantarkan barang.”

Wendy merapikan selimut Nyonya Martha sambil tersenyum.

Dia bukan hanya sekretaris CEO Grup Carter, tapi juga pembantu Keluarga Carter. Sejak kecil, dia tumbuh bersama Aiden, menangani semua urusannya.

“Wendy, jangan selalu memikirkan Tuan Aiden. Kalau ada lelaki baik yang mengejarmu, cobalah buka hati. Jangan sampai mengorbankan seluruh hidupmu hanya untuk Tuan Aiden.”

Nyonya Martha tahu betul orang macam apa Aiden itu. Dia hanya berharap cucunya bisa hidup bahagia.

Wendy menenangkan neneknya dengan suara lembut, “Nenek, aku tahu, nggak usah khawatir. Saya pergi sebentar, Nenek istirahat dulu.”

“Luar masih hujan deras. Biar nenek minta izin pada Tuan Aiden untuk tunda dulu.”

Nyonya Martha khawatir akan keselamatan cucunya di tengah hujan badai.

“Nggak apa-apa, Nek.”

Nyonya Martha menggenggam erat tangan cucunya, wajah mengerut sedih.

“Wendy, nenek tahu kondisi kesehatan sendiri. Jangan buang-buang uang. Jangan terus bergantung pada Keluarga Carter. Nenek cuma ingin kamu hidup bahagia. Kalau pun nenek pergi, nenek rela.”

Kalau bukan karena dirinya, Wendy sudah bisa meninggalkan Keluarga Carter tanpa harus menderita begitu banyak ketidakadilan.

Wendy tahu maksud neneknya. Dia pun bertingkah manja. “Nenek jangan bilang begitu. Nenek masih harus lihat Wendy menikah dan harus gendong cicit.”

Nyonya Martha tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Wendy pasti akan jadi pengantin tercantik. Semoga nenek bisa menyaksikannya.”

Wendy mengangguk sembari tersenyum. “Nenek pasti bisa menyaksikannya langsung.”

Nikah memang bukan hal mudah baginya. Namun jika nikah bisa membuat neneknya senang, dia akan cari cara.

Di luar, hujan bagaikan tirai tebal. Angin menderu.

Meski memakai payung, Wendy yang baru beberapa langkah keluar dari rumah sakit sudah basah kuyup. Dia juga tidak bisa melihat jelas jalan di depan.

Jalanan sepi. Sesekali ada mobil melaju dan memercikkan air ke badannya seolah-olah sedang menertawakan keterpurukannya.

Wendy basah kuyup, sangat menyedihkan.

Hampir semua toko tutup di tengah hujan malam itu.

Wendy berkeliling beberapa tempat sebelum akhirnya menemukan apotek yang buka dan membeli barang yang dipesan Aiden.

Kasir menatapnya yang basah kuyup sambil bertanya, “Apakah butuh barang lain lagi, Kak?”

Siapa pula yang di hujan deras gini, keluar untuk beli barang ini. Bahkan beli tiga kotak. Anak muda zaman sekarang sungguh tak bisa jaga diri.

“Ini saja, terima kasih.”

Setelah bayar, Wendy keluar dari toko dan berjalan di tengah hujan lagi.

Angin menerpa wajahnya. Dia menarik jaket yang sudah basah total. Sekujur tubuhnya makin menggigil. Dia tahu betapa menyedihkannya dirinya sekarang, tapi hidup tetap harus berlanjut. Dia tidak bisa mengeluh.

Dia berdiri di tepi jalan raya ingin mencari taksi. Namun, itu jelas bukan hal mudah di tengah hujan badai begitu. Apalagi tubuhnya basah kuyup, tidak mungkin ada taksi yang ingin mengantarnya.

Beberapa menit berlalu tanpa hasil. Wendy melambai pada setiap mobil yang lewat karena tidak bisa melihat jelas apakah itu taksi atau mobil biasa. Hasilnya, semua mobil itu hanya menyisakan cipratan air kotor padanya.

Setelah melewati tikungan, Rian melihat ada wanita di tepi jalan.

“Tuan Ferran, ada perempuan melambai minta tumpangan,” lapor Rian.

Pria di kursi belakang perlahan membuka mata. Tatapannya gelap dan dingin.

“Rian, sejak kapan kamu punya rasa kasihan?”

“Maaf, Tuan.”

Rian mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana mungkin atasannya ini akan membantu orang asing, apalagi orang itu adalah perempuan.

Mobil Rolls Royce pun melaju. Air percikannya lagi-lagi membasahi tubuh Wendy.

Pada momen mobil berpapasan dengan Wendy, sorot mata Ferran sekilas menangkap wajah Wendy yang pucat di bawah lampu jalan. Dia terpana sesaat.

“Berhenti.”

Citt...

Rian memandangi Ferran yang turun mobil itu dengan heran, lalu buru-buru turun dan buka payung.

“Tuan Ferran, hati-hati.”

Awalnya Wendy sudah tidak berharap apa-apa. Begitu melihat mobil Rolls Royce berhenti, dia langsung berlari mendekat. Tak disangka, dia malah terpeleset jatuh ke genangan air.

Dia berdiri dengan susah payah. Kantong belanjanya sobek sehingga tiga kotak kondom pun terlempar ke lantai aspal.

Dia memungut kotak-kotak itu dengan segan. Ketika dia hendak mengambil kotak ketiga, sepasang sepatu kulit hitam yang mengilap berdiri tepat di depan wajahnya.

Dia mendongak. Pria situ sedang memandanginya dari atas.

Waktu seakan berhenti.

Wajah pucat Wendy ternodai air lumpur, tatapannya panik, sekujur tubuh basah kuyup, kemeja putih menempel pada kulit sehingga samar-samar menampakkan postur tubuhnya. Tatapan pria itu dingin tanpa emosi apa pun.

Air hujan menetes dari rambutnya, jatuh ke tangan Wendy seperti sentuhan yang menggetarkan.

Posturnya yang gagah membuat orang menciut. Dia adalah Ferran Hayes!

Wendy tersentak, buru-buru berdiri dan mundur setengah langkah.

Ferran memainkan kotak kondom di tangannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan samar.

“Nona Wendy, ini punyamu?”

Wendy cukup kaget mengetahui bahwa Ferran masih mengingatnya.

“Terima kasih, Tuan Ferran sudah memungutnya.”

Wendy menjulurkan tangan ingin mengambil kotak kondom tersebut.

Namun, Ferran langsung menarik kembali tangannya sambil berkata dengan diiringi senyuman, “Bagaimana kalau kotak ini buat aku saja?”

Wendy tertegun. Ferran ingin minta sekotak kondom darinya? Sebagai pewaris Grup Hayes, dia kekurangan uang untuk beli kondom?

Di Kota Haven hanya ada dua keluarga terkaya yang diakui masyarakat, yaitu Keluarga Hayes dan Keluarga Carter. Ferran adalah pewaris Keluarga Hayes, saingan utama Keluarga Carter. Kepribadiannya dingin dan cuek, cara kerjanya tegas dan keras.

Berkat Nyonya Elena Florensia, ibunya Aiden, Wendy berkesempatan untuk masuk SMA khusus para bangsawan agar bisa menangani semua urusan Aiden.

Jadi, Wendy, Aiden, dan Ferran adalah teman sekolah. Aiden dan Ferran tidak pernah akur sehingga Wendy pun jarang bicara dengan Ferran, sekalipun mereka adalah teman sekelas.

Setelah lulus SMA, Ferran lanjut kuliah di luar negeri. Konon, dia sempat bekerja di kantor cabang Grup Ferran di luar negeri dan baru pulang negeri akhir-akhir ini. Banyak media yang memberitakan hal ini.

Kepulangan Ferran jelas membawakan ancaman bagi Grup Carter.

Walau sama-sama adalah pewaris, penilaian orang-orang terhadap Ferran dan Aiden bagai langit dan lumpur.

Setelah bermimpi tentang Ferran, Wendy tidak menyangka benar-benar akan bertemu dengannya. Itu pun di tengah kondisi yang begitu terpuruk dan tengah membawa kondom.

“Kalau Tuan Ferran suka, ambil saja.” Wendy tampak tersipu.

Ferran tersenyum, memasukkan kondom ke dalam tas.

Di belakangnya, Rian terpaku.

Astaga, atasannya meminta kondom dari seorang wanita?

Selama bertahun-tahun ikut Ferran, bukan cuma tak pernah melihat Ferran membeli barang tersebut, dia bahkan tak pernah melihat ada perempuan di sekitar Ferran.

Apakah kondom itu punya makna istimewa? Sepertinya dia perlu mempelajari merek kondom tersebut dan menyetoknya, mungkin saja atasannya tiba-tiba butuh…

Ngomong-ngomong, sepertinya atasannya mulai mengincar perempuan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 50

    “Apa?”Butuh beberapa detik sampai Wendy benar-benar bisa mencerna kata-kata tersebut.Seperti batu besar yang menghantam permukaan air tenang, hatinya bergolak hebat. Setelah berlalu lama pun masih tak kunjung tenang.Ferran menangkup wajahnya dengan lembut, menempelkan dahi padanya.Mata Wendy yang berbinar menatap lurus padanya.“Aku bilang, Wendy Sanders, ayo kita menikah.”Kata-kata terakhir itu diucapkan Ferran dengan sangat pelan dan jelas.Nikah? Ferran ingin menikah dengannya?“Nikah?”Wendy refleks ingin menghindar, tapi pipinya sudah terkurung di telapak tangan Ferran.Ferran tahu ini bukan sesuatu yang bisa langsung diterima Wendy. Dia menggendong dan membawanya ke sofa lain, lalu mendudukkannya di pangkuan.“Keluargaku ingin aku segera menikah.”Wendy terpaksa berhadapan langsung dengannya. Ekspresinya sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.“Tapi… kenapa saya yang Anda pilih? Saya sama sekali tidak pantas untuk Anda.”Ujung hidung Ferran menyentuh hidungnya, napas pan

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 49

    “Ini, ‘kan? Oh, iya! Nona cantik, siapa namamu?” tanya Sarah sambil menggandeng tangan Wendy dengan ramah.Wendy terkejut dengan perubahan sikap itu. “Tante, nama saya Wendy Sanders.”Ibunya Ferran terkesan aneh, tapi Wendy juga tidak tahu persis di mana letak keanehannya.“Tadi Ibu membuat Wendy ketakutan,” ujar Ferran yang jelas tidak setuju dengan sikap ibunya barusan.Wendy? Panggilan ini terdengar begitu intim.Wendy menoleh dan menatap pria yang sedang tersenyum lembut itu. Ferran pun menyadari tatapannya dan membalasnya.“Aduh, Wendy. Tadi itu salah tante. Bocah ini nggak bawa kamu pulang rumah, tante kira dia cuma bikin kamuflase saja.”Meski ada banyak rumor di luar sana, Sarah juga tahu Ferran membawa wanita pulang ke rumah, dia tetap menahan diri untuk tidak bertanya langsung pada Ferran. Namun, Ferran tidak kunjung membawa pacarnya pulang. Jadi, dia pun terpaksa datang sendiri untuk mengonfirmasi kenyataan.Sosok Wendy benar-benar di luar dugaannya. Sarah percaya pada penil

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 48

    “Berapa usiamu?”Tatapan Sarah Weston tidak sedikit pun berusaha menyembunyikan penilaiannya. Matanya menyapu tubuh Wendy, lalu berhenti sejenak di leher putih dengan bekas merah yang tak mungkin terabaikan.Anak muda sungguh sangat bergairah. Tak disangka anaknya juga punya sisi seperti itu. Sarah benar-benar terkejut.“25 tahun,” jawab Wendy jujur.“Apa hubunganmu dengan anakku?” tanya Sarah lugas.Anak? Ternyata dia adalah ibunya Ferran.Wendy berpikir beberapa detik dan berkata, “Saya adalah bawahan Tuan Ferran.”“Bawahan bisa tinggal serumah?”Anaknya sudah memakan orang ini habis-habisan, tapi orang ini hanya menyebut diri sebagai bawahan? Sarah diam-diam ikut tegang.Awalnya dia datang dengan riang untuk melihat calon menantu. Siapa sangka, calon menantunya malah tidak mau mengaku.Wajah Wendy tampak canggung. “Tante, saya sangat berterima kasih atas bantuan Tuan Ferran di saat saya kesulitan, jadi…”“Jadi, kamu membalasnya dengan menyerahkan diri?”Sarah menyambung kalimat Wend

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 47

    Wendy kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh ke arah Ferran.Ciuman masih berlanjut.Ferran akhirnya melepaskannya dan tersenyum tipis. “Pantas saja rasanya manis. Ternyata kamu.”Wendy tersadar dari linglungnya, buru-buru merangkak bangun.“Kalau mengantuk, tidur saja di tempat tidur. Saya… saya pergi ke toilet dulu.”Ferran menatap punggung Wendy yang menjauh, menjilat bibir tipisnya seolah belum puas.Manis sekali.···Di Grup Ferran.Kantor CEO kedatangan seorang tamu tak diundang.“Kak, kenapa denganmu? Kamu habis begadang? Lingkar hitam di matamu parah banget.”Lisa Weston menatap kakaknya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.Mereka pulang negeri bersama. Lisa bekerja di departemen desain salah satu anak perusahaan Grup Hayes, jadi jarang datang ke kantor pusat.Belakangan ini, gosip tentang kakaknya benar-benar bertebaran.Awalnya Lisa mengira itu cuma rumor. Begitu wanita itu muncul di Grup Hayes, dia mau tak mau harus percaya bahwa kakaknya yang terkenal dingin dan keba

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 46

    Ferran membalikkan tubuh, menindih Wendy di bawah, lalu mengetuk keningnya dengan ujung jari. “Memangnya aku bukan pacarmu?”Wendy menatapnya dengan bengong. Selama ini dia mengira Ferran tidak ingin disalahpahami.“Saya…”“Apa aku pacarmu?” tanya Ferran lagi.Hubungan mereka selama ini seperti hubungan terlarang yang tak pantas terekspos. Wendy tak pernah benar-benar memikirkannya.“Mungkin bu… Uhm…”Ferran membungkam mulutnya dengan agresif.Baru setelah puas, dia melepaskan Wendy. Ujung jari mengusap bibir lembutnya, tatapan tajam dan membara. “Kalau bukan pacar, kenapa boleh ciuman?”Wendy tak tahu Ferran sedang mengujinya atau apa. Dia refleks menciut.“Di zaman sekarang, hal-hal seperti ini nggak terlalu dianggap serius.”Wajah Ferran sontak memuram. “Kalau bukan pacar, kenapa boleh berhubungan intim? Wendy, ternyata begini pemikiranmu?”Wendy terdiam, tak mampu membantah.Ferran menghela napas. Ciuman lembut kembali membungkus bibir Wendy.Wendy terasa makin bingung. Semuanya ja

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 45

    Ferran menarik Wendy lebih dekat, melindunginya di sisi. Aura kuat yang terpancar dari Ferran membuat Rina mundur beberapa langkah.“Dia pacarmu?”Rina nyaris pingsan karena saking emosi. Kenapa waktunya bisa begitu pas? Wendy bawa pacarnya kemari di saat dia bawa Pak Tito juga.Lantas, bagaimana dengan Tito?“Apa? Pacar? Rina, berani-beraninya kamu membohongiku!”Tito benar-benar murka. Lemak di wajahnya sampai bergetar.Mana mungkin Rina rela membiarkan mahar 1 miliar terbang begitu saja. Meski pria di depan tampak ganteng dan rapi, Rina yakin dia tak sekaya Tito. Jadi, Rina pun tetap memilih untuk berpihak pada Tito.“Pak Tito, harap tenang dulu. Mana mungkin Wendy berpacaran dengannya?” Rina buru-buru menenangkan Tito. Ada Tito di sisinya, nyalinya kembali membesar. Dia jelas tak mau menyinggung donaturnya.“Pria ini nggak punya apa-apa, baik rumah maupun uang. Nggak seperti putra Pak Tito yang nggak hanya tampan, tapi juga punya uang dan rumah. Wendy cuma kalap sesaat. Wendy, deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status