Wendy sudah terjun ke dunia kerja selama dua tahun. Mana mungkin dia tidak mengerti maksud di balik kata-kata Ferran.
Di masa SMA, Ferran selalu menolak berhubungan dengan perempuan. Saat kuliah di luar negeri, namanya pun bersih tanpa satu pun skandal.
Malam ini, mereka baru saja bertemu kembali. Namun, Ferran langsung menyampaikan kata-kata seperti itu.
Apa dia sudah gila?
Baru berapa tahun tidak bertemu, kenapa perubahannya bisa sedrastis ini?
Wendy menekan kebingungan di hati, memaksa diri tetap tenang. “A… aku bantu carikan perempuan untuk Tuan Ferran? Tipe seperti apa yang Anda mau?”
Sebagai sekretaris yang profesional, dia pernah membantu Aiden mencari perempuan sesuai tipe yang diminta. Urusan setelahnya tidak dalam pertimbangannya.
Ferran menyapu dirinya dari atas ke bawah. Jemari di pergelangan tangan sedikit mengencang.
“Nona Wendy saja cukup.”
Ferran mau dirinya?
Wendy tertegun, benar-benar tak mengerti jalan pikiran Ferran.
Dia sedikit kesal, tapi profesionalismenya menahan emosi di permukaan.
“Maaf, Tuan Ferran. Permintaan Anda nggak bisa saya penuhi.”
Saat melihat pergelangan tangan Wendy yang putih sudah mulai memerah, Ferran melepas genggamannya dan menyamarkan emosi di matanya.
“Aku hanya bercanda. Nona Wendy jangan ambil hati.”
Wendy segera menyembunyikan tangan di belakang punggung.
“Nggak apa-apa. Saya pamit dulu.”
Dia sendiri tidak tahu kenapa jantungnya berdebar sekencang itu. Setiap kali menatap mata gelap Ferran, dia merasa tidak nyaman seperti sedang ditelanjangi habis-habisan.
“Kalau suatu hari Nona Wendy butuh, hubungi aku kapan saja.”
Langkah Wendy tak berhenti. Dia hampir seperti melarikan diri.
Ferran memandangi punggung mungil yang terburu-buru menjauh itu, senyum memudar.
Lalu dia mengeluarkan satu-satunya kotak kondom dari dalam saku, membolak-baliknya di tangan.
Cz…
Wendy tidak ingin menebak apa pun. Semua yang dilakukan Ferran hari ini sudah jauh melampaui kesan dia terhadap sosok Ferran Hayes di masa lalu.
…
Beberapa hari berlalu.
Wendy menjalani hari seperti biasa, bekerja banting tulang.
Di kantor Grup Carter, Departemen Sekretariat.
“Sekretaris Wendy, rapat segera dimulai, tapi…” Mita selaku asisten berlari kecil menghampiri Wendy. Wajahnya tampak panik, kalimatnya menggantung.
Wendy menyerahkan berkas rapat yang sudah dia persiapkan. “Tenang, jangan gugup.”
Wajar sekali karyawan baru merasa gugup. Dulu Wendy juga begitu. Jadi, dia bisa memahami perasaan mereka.
“Masalahnya, Tuan Aiden dan nona itu masih sedang melakukan itu di dalam ruangan. Saya nggak berani ganggu mereka.”
Di seluruh Grup Carter, tak ada yang berani menyinggung Aiden. Sebab, perusahaan ini milik keluarganya. Satu langkah salah, pemecatan bisa langsung dijatuhkan.
“Aku lihat dulu,” kata Wendy singkat.
“Terima kasih, Sekretaris Wendy.” Mita menghela napas lega.
...
Kantor CEO.
Tok! Tok! Tok!
Wendy mengetuk berkali-kali, tapi tak ada sahutan dari dalam.
Terpaksa, dia langsung membuka pintu.
“Tuan Aiden.”
Aiden mendengus kesal, jelas tak sudi kenikmatannya diganggu.
“Apa-apaan? Siapa suruh kamu masuk?”
Di pangkuannya duduk seorang wanita bertubuh seksi. Apa yang mereka lakukan jelas tak perlu dijelaskan lagi.
Wendy menunduk.
Wendy melapor dengan hormat, “Tuan Aiden, rapat segera dimulai. Saya sudah menelepon Anda beberapa kali, tapi Anda nggak angkat…”
Mencegah Aiden menunda urusan perusahaan juga bagian dari tugas Wendy.
Kalau sampai urusan perusahaan kacau hanya karena ulah pribadi Aiden, Nyonya Elena akan langsung memanggilnya.
“Wendy, kamu pikir kamu siapa sampai berani mengatur aku? Keluar.”
Aiden sangat tidak senang.
Menurutnya, Wendy selalu menjadikan urusan kerja sebagai alasan untuk mengganggu waktunya dengan perempuan lain. Kalau suka, kenapa tidak langsung bilang saja.
Meski begitu, dia tetap tidak akan pernah menggubris perasaan Wendy.
Raut wajah Wendy tetap tenang. “Kalau Tuan Aiden ada urusan lain, apakah rapatnya mau dibatalkan saja?”
“Terserah. Sekarang, enyah dari sini. Keluar!”
Setiap melihat wajah datar Wendy, emosi Aiden naik. Dia yakin Wendy cemburu, tapi selalu tidak berani mengaku.
Wanita di pangkuan merengek manja, meraba dada Aiden dengan centil. “Sayang, untuk apa kamu menghiraukan sekretaris nggak penting itu.”
“Sekretaris? Dia nggak pantas disebut sekretaris. Dia cuma pengasuh,” hina Aiden.
Kata-kata seperti ini sudah entah berapa kali menampar Wendy.
Dia tahu posisinya, tahu bahwa rasa suka yang pernah ada di hatinya itu tidak pantas keluar ke permukaan.
Pada akhirnya, rasa suka itu memudar dan berubah bentuk.
“Pengasuh? Kalau begitu, pecat saja. Biar aku yang jadi sekretarismu, bagaimana?” ujar wanita di pangkuan Aiden.
Ada banyak sekali perempuan di sekitar Aiden. Dia merasa selama bisa berada di sisi Aiden, dia punya peluang lebih besar untuk naik status.
Aiden meliriknya sekilas, bibir melengkung sinis. “Aku sudah mengusirnya berkali-kali. Demi neneknya yang sekarat itu…”
Ekspresi Wendy langsung berubah. Dia bisa terima segala hinaan, tapi tidak bisa terima neneknya dijadikan hujatan.
“Aiden, minta maaf.”
Untuk pertama kalinya, Aiden menyaksikan Wendy marah.
Bukankah dia tidak acuh terhadap segala hal? Bukankah dia selalu berekspresi datar menghadapi segala hinaan? Ternyata dia bisa marah juga?
“Dengar, Sayang. Dia suruh kamu minta maaf.” Wanita itu tertawa terbahak-bahak, lalu memeluk Aiden seolah ketakutan. “Kamu suruh atasanmu untuk minta maaf padamu? Tuan Aiden, dia benar-benar sangat tidak sopan. Aku takut sekali.”
Aiden menepuk pelan bahu wanita itu sambil berkata, “Kenapa takut? Ada aku. Memangnya kenapa kalau aku ungkit nenekmu? Nenekmu yang sekarat itu…”
Jari-jari Wendy mengepal kuat, lalu melonggar lagi.
Dia bisa menelan semua hinaan demi uang, tapi tidak bisa menerima satu kata kotor pun diarahkan ke nenek yang sudah mengorbankan segalanya untuknya.
“Aiden Carter, aku suruh kamu minta maaf.”
Rahangnya terkatup keras. Air menggenang di sudut matanya.
Entah kenapa, pemandangan ini justru membuat Aiden semakin kesal.
Perempuan ini benar-benar tidak tahu diri. Wendy sengaja tidak mau menurutinya.
“Keluar dari sini. Aku nggak mau melihatmu lagi. Kamu juga bukan sekretarisku lagi. Nina, kamu cocok untuk jadi sekretarisku.”
“Serius? Aku boleh langsung masuk kerja?” Mata Nina berbinar. Dia memeluk dan mencium Aiden beberapa kali.
“Iya.”
Aiden sangat yakin bahwa Wendy pasti akan memohon padanya. Sebab, Wendy tidak punya uang. Dia tidak mungkin mau kehilangan pekerjaan ini.
Wendy memejam mata sejenak, menenangkan napas, lalu mengambil keputusan yang sudah lama ada di sudut hatinya.
Dia melepas kartu nama dan meletakkannya di meja.
“Apa-apaan? Kamu mengancamku?” Alis Aiden berkerut tajam.
“Kamu nggak perlu usir aku. Aku undurkan diri. Soal Nyonya Elena, aku akan jelaskan padanya.”
Selama ini, dia bisa menahan diri.
Namun begitu menyangkut nenek, batas kesabarannya berhenti.
Aiden mendengus, “Kamu pikir aku nggak bisa hidup tanpa kamu? Wendy, jangan sok tahu.”
“Tanpa siapa pun, bumi tetap akan berputar.”
Kemudian, Wendy berbalik tanpa ragu sedikit pun. Dia tidak pernah berpikir dirinya penting.
Di sisi lain, Aiden merasa dia sedang jual mahal. Pada akhirnya, dia pasti akan balik lagi.
Melihat kartu nama di meja, emosi Aiden kembali meledak.
“Tuan Aiden, kamu baik sekali.”
Nina merasa bangga karena bisa segera beri tahu semua perempuan yang selalu menempel di sekeliling Aiden bahwa dirinya menang. Dia berhasil mengusir Wendy.
“Siapa yang izinkan kamu untuk ambil?”
Aiden meraih kembali kartu nama di tangan Nina.
Nina sangat kesal, tapi tidak berani menunjukkannya.
Wendy kembali ke meja kerja.
Dia langsung mulai membereskan berkas dan mengatur serah-terima tugas dengan rekan-rekan.
“Sekretaris Wendy, Anda benar-benar mau keluar? Tapi, Tuan Aiden…” Mita dan beberapa rekan lain mengelilingi Wendy.
“Iya. Tuan Aiden sudah setuju. Terima kasih untuk kerjasamanya selama ini.”
“Sekretaris Wendy, kami sedih sekali.”
“Terima kasih. Kita tetap bisa bertemu di luar kantor. Kalian harus bekerja yang rajin.”
Dua tahun bekerja di sini, wajar mereka tidak rela.
Hubungan antar rekan kerja di sini selalu baik, kecuali Aiden.
…
Wendy kehilangan pekerjaan.
Namun bukannya sedih, dia justru merasa lega.
Meski masih membawa beban utang, napasnya terasa lebih lapang.
Mulai sekarang, dia akan hidup untuk dirinya sendiri.
Tidak ada waktu untuk bersedih-sedih. Dia harus segera mendapatkan pekerjaan baru, melunasi hutang pada Keluarga Carter, dan membayar biaya perawatan nenek.
Saat dia sibuk mencari lowongan, telepon dari rumah sakit datang. Nenek mengalami serangan jantung dadakan. Dia pun bergegas ke rumah sakit.
Di ruang rawat, nenek terbaring dengan oksigen terpasang.
“Dok, bagaimana kondisi nenek saya?” tanya Wendy dengan suara bergetar.
Dokter Galih menghela napas. “Saranku adalah segera dilakukan operasi. Obat sudah nggak bisa mengontrol kondisinya. Pihak keluarga harus segera ambil keputusan.”
Kaki Wendy melemas. Untung seorang perawat sigap menahannya.
“Astaga, Ibu. Kenapa Ibu begitu menderita? Dari mana kami bisa dapat uang untuk operasi?”
Ibu angkat Wendy alias Rina menangis tersedu di samping ranjang.
Wendy memaksa diri tetap tenang. “Dok, berapa kira-kira biaya operasinya?”
“Untuk awal, siapkan sekitar satu miliar dulu. Nanti akan ada biaya lanjutan. Total kira-kira bisa sampai dua miliar.”
Dokter Galih tahu kondisi finansial mereka, jadi sudah berusaha menurunkan angka biaya agar mereka tidak terlalu terkejut.
Begitu mendengar jumlah itu, tangisan Rina semakin keras. “Astaga, Bu. Bukan kami nggak mau tolong Ibu, tapi gaji anakmu yang cuma kerja serabutan saja sudah susah untuk makan. Dari mana kami cari satu miliar?”
Rina menoleh pada Wendy, menggenggam tangannya erat. “Wendy, nenek paling sayang sama kamu. Kamu pasti punya tabungan, ‘kan?”
Kalau Wendy tidak membantu, mereka benar-benar tidak punya cara lagi. Bukannya Rina kejam, tapi keluarga mereka benar-benar tidak punya uang.
Wendy tahu kondisi mereka, jadi hanya berkata pelan, “Aku akan cari solusi.”
Dia punya solusi apa?
Nyonya Elena tidak mungkin meminjaminya uang, apalagi Aiden.
Sekarang, dia bahkan sudah tidak punya pekerjaan.
Siapa yang bisa dia minta tolong?
Shellen?
Sahabatnya itu sudah terlalu banyak membantunya. Dia tidak boleh meminta lebih banyak lagi.
Tanpa sadar, matanya jatuh pada selembar kartu nama di dalam tas.
Dia menggenggamnya erat.
Sepertinya hanya dia yang bisa dicari.
…
Di Café Anchor, salah satu ruang VIP.
Wendy duduk dengan punggung lurus.
Hari ini dia sengaja berdandan dan berpakaian lebih terbuka.
Ini pertama kalinya dia berpakaian seperti ini.
Dia memaksa diri tampak tenang. Senyum tak lepas dari wajahnya.
Tatapan Ferran singgah sekilas di tubuhnya, lalu berpindah lagi seolah tak tertarik.
Wendy mengenakan atasan segitiga berwarna pink dengan desain pita, menonjolkan leher jenjang, tulang selangka, dan lekuk tubuh yang biasanya tersembunyi di balik kemeja kerja.
Penampilannya jauh berbeda dari citra sekretaris rapi yang biasa.
Satu pandang saja sudah cukup untuk membuat laki-laki kehilangan akal sehat.
Jari-jarinya mengepal di bawah meja.
Dia mengangkat senyum, menggeser kantong kertas ke depan Ferran.
“Tuan Ferran, ini jas Anda. Terima kasih sudah meminjamkannya.”
Lengan putihnya tampak kontras dengan warna meja kayu gelap, jelas sangat menarik perhatian.
“Nona Wendy terlalu sungkan,” jawab Ferran datar.
Wendy menggunakan alasan mengembalikan jas untuk bertemu Ferran. Begitu Ferran setuju, dia pun sengaja berdandan.
Sekarang, dia benar-benar tidak punya pilihan lain lagi.
Namun sejak mereka duduk, Ferran bersikap sangat tak acuh. Wendy jadi khawatir, apakah Ferran tidak tertarik padanya.
Keheningan terasa berat.
Pada akhirnya, Wendy memutuskan untuk membuka percakapan. “Tuan Ferran, apakah ucapan Anda kemarin masih berlaku?”
Ferran mengangkat kepala menatapnya. “Apa itu?”
Dia lupa?
Senyum di wajah Wendy sedikit menegang. Dia menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah malam ini Tuan Ferran masih ingin melakukan itu?”
Dia berusaha menjaga suara tetap stabil. Namun, rona merah yang merambat naik ke pipinya jelas telah menunjukkan rasa gelisahnya.
Tangan Ferran yang berada di bawah meja mengepal pelan.
Sudut bibirnya melengkung sedikit, begitu tipis hingga nyaris tak terlihat.
“Kenapa? Setelah keluar dari Grup Carter, Nona Wendy begitu terburu-buru ingin cari pengganti?” Jemari panjangnya mengetuk meja dengan ritme pelan.
Ferran tahu dirinya sudah keluar dari Grup Carter?
Wendy memang tidak bermaksud menyembunyikan hal itu.
Dia tetap tersenyum. “Saya memang sudah keluar dari Grup Carter. Kalau Tuan Ferran nggak berkenan, saya nggak akan paksa.”
Dia sudah menduga bahwa Ferran pasti akan waswas padanya. Bagaimanapun, dia pernah menjadi sekretaris musuh bisnis Ferran.
Tidak apa-apa. Dua tahun di Grup Carter membuatnya mengenal cukup banyak pria kaya. Sebelumnya pun ada beberapa yang terang-terangan mengajukan tawaran untuk menjadikannya sebagai simpanan.
Kalau memang Ferran tidak bersedia, dia akan mencari opsi lain.
“Maaf sudah menyia-nyiakan waktu Anda…”
Saat Wendy hendak bangkit, Ferran berkata, “Nona Wendy, kamu harus tahu perbedaan dari aku dan kamu yang mengajukan hal ini.”
Wendy menggenggam ujung rok, menatap lurus.
“Tuan Ferran, silakan terus terang saja.”
Sudut bibir Ferran terangkat.
“Sini!”
Mendengar itu, Wendy perlahan berdiri dan melangkah mendekat.
Dia tidak tahu apa niat Ferran. Tapi untuk saat ini, dia hanya bisa mengikuti alur Ferran.
Dia berhenti di depan kursi Ferran. “Silakan katakan saja, Tuan Ferran.”
Tiba-tiba, tangan Ferran melingkar di pinggang rampingnya dan menariknya turun.
Tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke pelukan Ferran.
“Tuan Ferran.”
Wendy terkejut. Kedua tangan otomatis menahan jarak di antara mereka.
Ferran sedikit menunduk. Ekspresinya berubah untuk pertama kalinya, ada bayangan senyum.
“Jadi, apa yang membuat Nona Wendy tiba-tiba berubah pikiran?”
Wendy menundukkan kelopak, memilih untuk jujur. “Aku butuh uang.”
Bagi banyak orang, apa yang dilakukannya sekarang sangat hina.
Tapi tanpa uang, dia bahkan tidak punya hak untuk mempertahankan nyawa satu-satunya keluarga yang tersisa.
Dia tidak akan mengganti nyawa nenek dengan harga diri kosong.
Ferran tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
Dia mengangkat dagu mungil Wendy, ibu jari menyapu lembut bibirnya. “Berapa yang kamu mau?”
Tangan Wendy mengepal kuat. “12 miliar.”
Alis Ferran terangkat. Ujung jarinya masih bermain di bibir lembut Wendy. “Nona Wendy merasa pantas dihargai segitu?”
Betapa ironisnya.
Wendy sendiri tidak ingin mengakuinya, tapi dia tahu dia sedang menawarkan dirinya sendiri.
“Bukan aku yang menilai pantas atau tidak pantas. Kalau Tuan Ferran suka, bahkan 120 miliar pun sanggup Anda bayar.”
Wendy tidak yakin apakah Ferran akan tertarik pada dirinya. Dia sedang bertaruh.
Keheningan kembali mengitari mereka.
Wendy tidak tahu apa yang sedang dipertimbangkan Ferran. Mungkin sedang menimbang apakah dirinya layak dihargai setinggi itu.
Penantian terasa seperti hukuman.
Dia tidak berani bergerak, bersandar diam di dalam pelukan Ferran sambil menunggu keputusannya.
Beberapa saat kemudian, bibir tipis itu bergerak. “Cium.”
Ferran setuju? Wendy menatapnya dengan mata terbelalak.
“Cium aku.”
Begitu mendapat perintah, Wendy refleks mencondongkan tubuh dan menyentuhkan bibirnya di bibir Ferran. Sekilas saja, lalu buru-buru menjauh lagi.
Dia sendiri tak yakin apakah itu benar atau salah. “Tuan Ferran, begini benar?”
Tatapan Ferran berhenti di bibirnya yang memerah. “Nona Wendy belum pernah berciuman?”
Wendy tampak canggung. Ferran pasti sangat jago dalam hal ini. Kalau tidak, mana mungkin dia langsung tahu.
“Maaf kalau membuat Anda kecewa.” Wendy tidak menyangkal.
Sudut bibir Ferran terangkat semakin tinggi. “Ciuman itu bukan hanya tempelan sebentar. Aiden nggak pernah menyentuhmu?”
“Mana mungkin dia sentuh aku. Dia sangat benci aku.”
Nada suara Wendy datar, tapi ada sarkasme tipis yang terkandung di dalamnya.
Tangan besar Ferran tiba-tiba bergerak ke belakang kepala Wendy, menahannya.
Wendy hanya bisa menyaksikan wajah Ferran yang semakin mendekat.
Aroma segar dan jernih seketika menyelimuti atmosfer di antara mereka.
Dalam sekejap, seluruh napasnya dipenuhi oleh wangi khas Ferran.
Napasnya semakin berantakan.
Ciuman Ferran begitu ganas, membuat seluruh pertahanannya runtuh.
Entah berapa lama waktu berlalu.
Begitu dia hampir kehabisan napas, barulah Ferran menjauh.
“Tarik napas.”
Suara berat itu terdengar dekat di telinga, seperti bercampur dengan senyum samar.
Kepala Wendy pusing.
Dia terengah-engah. Wajah memerah sampai ke telinga. Sekujur tubuh panas dan lemas di dalam pelukan Ferran.
“Ini baru namanya berciuman. Paham?”
Ujung jari Ferran mengusap pipi mungil Wendy, menikmati tekstur kulitnya.
“Hm.”
Wendy berusaha menenangkan napas. Namun, ciuman barusan terlalu mengguncang. Jantungnya masih berdebar tak karuan.
Mereka pun berpelukan dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama.
Wendy sibuk menenangkan diri, sementara Ferran semakin sulit mengendalikan diri.
“Aku sudah pengin. Ayo.”
Nada suaranya ringan, tapi cukup mengagetkan Wendy.
Dia masih belum sepenuhnya sadar dari apa yang baru saja terjadi, jadi sekarang pun hanya bisa menatap kosong ke arah Ferran.
“Kenapa? Nona Wendy mau melakukannya di sini?” tanya Ferran dengan nada ejek.
“Bukan… bukan begitu.”
Wendy buru-buru bangkit, tapi karena tubuhnya masih lemas, dia kembali jatuh ke pelukan Ferran.
Tawa pelan Ferran terdengar di samping telinga. “Kita bahkan belum mulai, kamu sudah begitu bersemangat?”
Wajah Wendy memerah habis-habisan.