Share

Bab 4

Author: LIlian
Sebelum beranjak pergi, Ferran lagi-lagi menyampirkan jasnya di bahu Wendy.

Wendy pun menatapnya dengan bingung.

“Di depan orang lain, jangan pakai seperti ini.”

Dia benar-benar datang dengan persiapan.

Namun, dia sama sekali tidak paham betapa besarnya daya tarik pakaian seperti ini di mata pria.

Untungnya, orang yang didatanginya adalah Ferran.

“Uhuk… baik.”

Wendy buru-buru mengenakan jas.

Jas Ferran sangat wangi, tiada jejak rokok atau alkohol. Sepertinya dia memang tidak punya kebiasaan buruk semacam itu.

Keduanya pun keluar dari ruang VIP. Ferran berjalan di depan. Saat menyadari Wendy tidak menempel di belakangnya, dia sengaja memperlambat langkah.

“Sekretaris Wendy, kamu juga minum kopi di sini?”

Di koridor, Wendy berpapasan dengan mantan rekan kerja dari Grup Carter.

“Iya, halo.” Wendy tersenyum dan mengangguk sopan.

Ferran memandanginya dengan lembut. Sorot mata mengandung pemanjaan. Namun, Wendy tidak menyadarinya sama sekali karena fokus menyapa mantan rekan kerja.

“Sekretaris Wendy, ini pacarmu?” tanya seorang rekan dengan penasaran.

Wendy melirik sekilas ke arah Ferran. “Bukan. Aku masih ada urusan. Lain kali baru kita cerita-cerita, ya.”

“Oh, baik. Sampai jumpa.”

Orang suka bergosip. Wendy pun tidak berminat menjelaskan lebih banyak.

Di sisi lain, alis Ferran nyaris tak kentara berkerut saat mendengar sangkalan dari Wendy. Namun, wajahnya tetap tenang seperti biasa.

Begitu mereka menjauh, orang-orang di belakang langsung berbisik.

“Kenapa cowok itu terkesan familiar banget? Auranya kuat sekali. Sepertinya aku pernah melihatnya.” Rekan A menyenggol lengan temannya.

“Dia itu CEO Grup Hayes, Tuan Ferran. Tentu saja kelihatan familiar.” Rekan B menatap punggung Ferran dengan mata berbinar-binar.

Di Kota Haven, semua orang tahu bahwa pewaris Keluarga Carter dan Hayes adalah dua pria lajang. Keduanya tampan, muda, dan kaya raya. Idaman banyak perempuan.

“Pantas Sekretaris Wendy mengundurkan diri. Ternyata dia pindah ke pihak kompetitor,” gumam Rekan A seolah baru paham.

“Nggak kelihatan ternyata Sekretaris Wendy adalah orang seperti ini.” Rekan B menghela napas dramatis.

“Bukan salah Sekretaris Wendy juga. Kita semua tahu bagaimana Tuan Aiden memperlakukannya.”

“Benar juga. Lagipula, aku merasa Tuan Ferran jauh lebih baik daripada Tuan Aiden.”

Keduanya terus bergunjing sambil berjalan.

...

Di dalam mobil.

Wendy melepas jas, melipat rapi, menyerahkannya pada Ferran.

“Terima kasih, Pak Ferran.”

Ferran melirik sekilas ke arah jas. “Pakai saja, kecuali kalau kamu mau melakukannya di dalam mobil.”

Wendy langsung mengenakan kembali jas itu dengan canggung, lalu memandang keluar jendela.

Lintas terus mengalir, pikirannya terasa penuh dan sempit.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah vila.

“Tuan, Nona. Kita sudah sampai.”

Pengawal segera membuka pintu.

“Tuan Ferran, di mana ini?”

Wendy sempat mengira Ferran akan membawanya ke hotel, tapi ternyata malah ke rumah.

“Aku merasa lebih nyaman di rumah.”

“Baik.”

Lantas, kenapa waktu itu dia menginap di hotel? Meski penasaran, Wendy tidak bertanya.

Saat Wendy masih melamun, Ferran sudah turun dan berjalan memutari mobil.

Dia membuka pintu untuk Wendy dari luar.

“Terima kasih.” Wendy segera turun.

Di Keluarga Carter, Wendy sudah terbiasa melihat berbagai bentuk kemewahan.

Dibanding kediaman Carter yang megah, rumah Ferran jauh lebih sederhana dengan gaya modern yang rapi dan minim ornamen berlebih.

Para pembantu berbaris di samping, menatap mereka dengan kaget bercampur penasaran.

Wendy memaksa diri melangkah dengan tenang di belakang Ferran.

Sampai di kamar utama, dekorasinya masih sederhana. Namun, warna kamarnya bernuansa gelap.

Meski sebelumnya sudah berkali-kali mengingatkan diri sendiri tentang apa yang akan terjadi malam ini, begitu benar-benar berada di sini, Wendy tetap merasa gugup.

“Duduklah.” Ferran duduk di sofa.

“Baik.”

Wendy duduk manis di sofa tunggal, sementara Ferran duduk di seberang dengan sikap seperti seorang raja yang mengawasi segala sesuatu dari singgasananya.

Wendy terus memainkan jari-jemari, tampak tenang di permukaan, tapi sebenarnya telapak tangannya sudah penuh keringat.

“Apakah mau minum?”

Ferran menyaksikan kegugupannya. Jujur saja, dirinya juga sama saja.

“Terima kasih, saya tidak haus.”

Percakapan mereka sangat singkat dan biasa.

Namun di hadapan Ferran, Wendy selalu merasa seolah dirinya sedang ditelanjangi. Tak ada hal yang bisa disembunyikannya.

“Gugup?” tanya Ferran lagi.

“Nggak.”

Wendy tersenyum tipis, tangan tak henti berpeluh.

Bagaimana mungkin tidak gugup? Jelas bohong.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan tiba-tiba datang dari pintu. Wendy pun refleks berdiri.

“Aku buka pintu.”

Ferran tidak larang, terserah apa yang mau dilakukan Wendy. Namun, tatapannya tidak pernah lepas sedetik pun dari Wendy.

Beberapa pembantu masuk, meletakkan buah-buahan dan kue ringan di meja, lalu segera pergi.

“Makan dulu. Malam ini akan terasa sangat panjang.”

“Iya. Saya ke kamar mandi sebentar.”

Ferran mengangguk kecil.

Di wastafel, Wendy menatap sosoknya sendiri di cermin. Pipinya jauh lebih merah daripada yang dia bayangkan.

Dia pikir tadi dirinya sudah cukup tenang. Nyatanya, wajahnya sendiri mengkhianatinya.

Dia pun membasuh muka dengan air. Suhu dingin sedikit membantu menurunkan panas di wajahnya.

Dia mengingatkan diri sendiri bahwa mereka sama-sama orang dewasa. Transaksi ini hanya saling memenuhi kebutuhan satu sama lain.

Setelah kembali ke kamar, dia duduk dan mulai memakan sedikit kue dan buah.

Rasanya hambar. Namun, dia tahu bahwa malam ini pasti akan sangat melelahkan.

Dia makan pelan-pelan, sementara Ferran memperhatikannya tanpa suara.

Melihat Ferran tidak menyentuh apa pun, Wendy bertanya pelan, “Tuan Ferran… Anda tidak makan?”

Ferran tersenyum samar. “Kamu saja. Aku belum cuci tangan.”

Bertahun-tahun di sisi Aiden mengajarkannya membaca pikiran atasan.

Namun di hadapan Ferran, dia benar-benar sulit menebak.

Dia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya, tapi sebaiknya melakukan sesuatu daripada diam saja.

Pada akhirnya, dia mengambil satu butir anggur, mengupas kulitnya, lalu mengangkatnya ke arah bibir Ferran dengan diiringi senyum halus. “Silakan, Tuan Ferran. Saya baru cuci tangan.”

Tatapan Ferran berubah sedikit.

“Kamu juga melakukan ini untuk Aiden?”

Gerakan tangan Wendy terhenti. “Aku selalu berusaha melakukan setiap tugasku sebaik mungkin.”

Faktanya, dia tidak pernah melakukan ini untuk Aiden. Aiden hanya tahu memerintahnya, tidak pernah memberinya kesempatan untuk mendekat.

Kerja? Dia menyebut hal seperti ini sebagai kerja?

Saat Ferran menggigit anggur yang disodorkan Wendy, bibirnya sekilas menyentuh kulit jari Wendy.

Sentuhan ringan itu seperti listrik kecil yang menjalar sampai ke ujung jari.

Wendy buru-buru menarik tangannya kembali.

Namun, dia tetap mengupas anggur berikutnya. Berapa pun yang dia berikan, Ferran tidak menolak.

Sampai saat dia hendak mengupas anggur berikutnya lagi, suara Ferran terdengar.

“Kalau kamu memang begitu professional, kerja di perusahaanku saja.”

Wendy mengangkat pandangan. “Tuan Ferran, saya pernah bekerja di Grup Carter. Anda nggak khawatir saya akan membocorkan rahasia perusahaan?”

Kedua perusahaan adalah raksasa bisnis, sekaligus saingan. Dalam urusan tenaga kerja, keduanya selalu berhati-hati.

“Kalau sampai itu terjadi, artinya Aiden benar-benar murah hati sampai-sampai menyerahkanmu padaku.”

Ferran terkekeh, kemudian menggendong Wendy di pelukan.

Refleks, kaki Wendy melingkar di pinggang Ferran, tangan bertumpu di bahu dan lehernya, tapi ujung jari tidak berani menyentuh kulitnya sedikit pun.

“Tuan Ferran, Anda nggak mau makan lagi?” Dia belum sempat cuci tangan.

“Aku lebih pengin makan...” Ferran melangkah besar ke ranjang.

Kalau di antara pasangan kekasih, kalimat itu mungkin terdengar seperti godaan manis.

Namun di antara mereka, rasanya sulit diartikan.

Ferran meletakkannya pelan di atas ranjang. Tubuh tinggi menunduk, perlahan menindihnya.

Wendy refleks memejamkan mata.

Setelah menunggu cukup lama, tak ada apa-apa yang terjadi.

Wendy pun mengintip dan mendapati Ferran tengah menatapnya lurus.

“Takut?”

“Di tanganku masih ada bekas anggur,” jawabnya cepat.

Dia melambaikan tangan, tidak ingin rasa gugupnya itu ketahuan Ferran.

Ferran menangkap pergelangan tangannya, mengangkat satu jarinya dan membawanya ke bibir…

Sentuhan hangat membuat pikiran Wendy seketika meledak.

“Tuan Ferran, kotor…” ujar Wendy pelan dengan muka merah padam.

“Rasanya manis.”

Bagaimana Ferran bisa mengucapkan kalimat seperti itu dengan begitu tenang?

“Masih takut?”

Wendy menggeleng. “Itu… kita belum mandi.”

“Benar juga. Kamu duluan atau aku duluan?” tanya Ferran sambil mengusap punggung tangan Wendy.

Cepat atau lambat, mereka harus melewati ini. Wendy pun menjawab, “Terserah.”

“Kalau begitu, bareng saja.”

Wendy terdiam.

Alhasil, Ferran kembali mengangkatnya. Kali ini, mereka menuju kamar mandi.

Keduanya berdiri berhadapan. Ferran sangat santai seolah mereka sedang mengobrol biasa.

“Mau aku bantu?” tanya Ferran.

“Nggak perlu, aku bisa sendiri.”

Kepala kecilnya menggeleng, tubuhnya sedikit bergetar.

Tanpa tergesa, Ferran mulai membuka kancing kemeja putihnya.

Satu…

Dua…

Tiga…

Wendy berusaha menenangkan diri. Tanpa sengaja, pandangannya menyapu dada bidang Ferran.

Garis otot jelas, perut berpetak rapi. Ini jelas tubuh yang terbentuk dari latihan rutin.

Begitu sadar bahwa dirinya sedang menilai tubuh Ferran, Wendy buru-buru memalingkan muka lagi.

Baru dia hendak menyentuh kancing bajunya sendiri, pinggangnya sudah direngkuh hingga menempel erat pada Ferran.

“Kenapa belum buka?”

Hembusan napas Ferran menyapu lembut kulit lehernya.

Ringan, hangat, dan membuatnya sulit bernapas dengan normal.

“Segera.” Wendy memalingkan wajah, suaranya kecil sekali.

Kedua tangannya menahan tubuh pria untuk berjaga jarak. Telapak tangannya pun menyentuh kulit panas di dada Ferran.

Dia buru-buru menarik kembali, wajah semakin memanas.

Ferran menyaksikan kegugupannya, sudut bibir melengkung.

“Nona Wendy, apa kamu puas dengan apa yang kamu lihat?”

Dia mengait dagu mungil Wendy dengan jari, memaksanya menatap balik.

“Pu… puas.”

Ruang sempit dipenuhi hawa mesra.

Tatapan Ferran meluncur turun dari wajah Wendy, melewati garis leher, berhenti di tulang selangka, lalu jatuh pada pita pink kecil di depan dada.

Seperti membuka sebuah kado, Ferran menyentuh pita itu pelan. Satu tarikan saja, simpulnya terlepas.

Segala sesuatu di bawahnya perlahan tersingkap.

Sorot mata Ferran sontak dipenuhi hasrat nafsu.

Dingin udara menyentuh kulit, membuat Wendy refleks memeluk diri sendiri.

Meski di dalam hati terus menenangkan diri, begitu telanjang di depan Ferran, Wendy tetap merasa seolah seluruh tubuhnya terbakar.

Ferran menurunkan tangannya dengan lembut, lalu memeluk pinggang rampingnya.

Wendy memejamkan mata.

Sampai di titik ini, dia tidak akan mundur. Dia juga tidak akan mengizinkan dirinya untuk mundur.

Bak mandi di rumah Ferran sangat besar, bahkan cukup untuk memuat beberapa orang seukuran Wendy.

Ferran tampak santai. Sebaliknya, tubuh Wendy kaku seperti patung.

“Kenapa setegang itu?”

Tiba-tiba, Ferran mengangkat pinggangnya dan menempatkannya duduk tepat di atas paha.

Meski membelakangi Ferran, kehangatan tubuhnya terasa jelas.

Jarak yang nyaris tidak ada ini pun berulang kali mengingatkan apa yang akan segera terjadi.

Wendy perlahan menarik napas, mencoba merilekskan diri.

Namun, ini sungguh tidak mudah.

“Pertama kali?”

Suara rendah Ferran terdengar di telinga.

Wendy langsung batuk kecil. “Uhuk… uhuk…”

Seolah tidak mengerti atau pura-pura tidak peka, Ferran memutar tubuhnya dan membuatnya berhadapan langsung.

Uap hangat memenuhi ruangan.

Mata Wendy berkilat oleh lapisan tipis kabut. Kulitnya tampak putih dengan semburat merah muda.

Ferran mengusap lembut punggungnya. “Kenapa jadi batuk? Kedinginan?”

Tanpa menunggu jawaban, Ferran menarik tubuhnya lebih dekat.

Sekarang, Wendy ingin batuk lebih keras lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 50

    “Apa?”Butuh beberapa detik sampai Wendy benar-benar bisa mencerna kata-kata tersebut.Seperti batu besar yang menghantam permukaan air tenang, hatinya bergolak hebat. Setelah berlalu lama pun masih tak kunjung tenang.Ferran menangkup wajahnya dengan lembut, menempelkan dahi padanya.Mata Wendy yang berbinar menatap lurus padanya.“Aku bilang, Wendy Sanders, ayo kita menikah.”Kata-kata terakhir itu diucapkan Ferran dengan sangat pelan dan jelas.Nikah? Ferran ingin menikah dengannya?“Nikah?”Wendy refleks ingin menghindar, tapi pipinya sudah terkurung di telapak tangan Ferran.Ferran tahu ini bukan sesuatu yang bisa langsung diterima Wendy. Dia menggendong dan membawanya ke sofa lain, lalu mendudukkannya di pangkuan.“Keluargaku ingin aku segera menikah.”Wendy terpaksa berhadapan langsung dengannya. Ekspresinya sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.“Tapi… kenapa saya yang Anda pilih? Saya sama sekali tidak pantas untuk Anda.”Ujung hidung Ferran menyentuh hidungnya, napas pan

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 49

    “Ini, ‘kan? Oh, iya! Nona cantik, siapa namamu?” tanya Sarah sambil menggandeng tangan Wendy dengan ramah.Wendy terkejut dengan perubahan sikap itu. “Tante, nama saya Wendy Sanders.”Ibunya Ferran terkesan aneh, tapi Wendy juga tidak tahu persis di mana letak keanehannya.“Tadi Ibu membuat Wendy ketakutan,” ujar Ferran yang jelas tidak setuju dengan sikap ibunya barusan.Wendy? Panggilan ini terdengar begitu intim.Wendy menoleh dan menatap pria yang sedang tersenyum lembut itu. Ferran pun menyadari tatapannya dan membalasnya.“Aduh, Wendy. Tadi itu salah tante. Bocah ini nggak bawa kamu pulang rumah, tante kira dia cuma bikin kamuflase saja.”Meski ada banyak rumor di luar sana, Sarah juga tahu Ferran membawa wanita pulang ke rumah, dia tetap menahan diri untuk tidak bertanya langsung pada Ferran. Namun, Ferran tidak kunjung membawa pacarnya pulang. Jadi, dia pun terpaksa datang sendiri untuk mengonfirmasi kenyataan.Sosok Wendy benar-benar di luar dugaannya. Sarah percaya pada penil

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 48

    “Berapa usiamu?”Tatapan Sarah Weston tidak sedikit pun berusaha menyembunyikan penilaiannya. Matanya menyapu tubuh Wendy, lalu berhenti sejenak di leher putih dengan bekas merah yang tak mungkin terabaikan.Anak muda sungguh sangat bergairah. Tak disangka anaknya juga punya sisi seperti itu. Sarah benar-benar terkejut.“25 tahun,” jawab Wendy jujur.“Apa hubunganmu dengan anakku?” tanya Sarah lugas.Anak? Ternyata dia adalah ibunya Ferran.Wendy berpikir beberapa detik dan berkata, “Saya adalah bawahan Tuan Ferran.”“Bawahan bisa tinggal serumah?”Anaknya sudah memakan orang ini habis-habisan, tapi orang ini hanya menyebut diri sebagai bawahan? Sarah diam-diam ikut tegang.Awalnya dia datang dengan riang untuk melihat calon menantu. Siapa sangka, calon menantunya malah tidak mau mengaku.Wajah Wendy tampak canggung. “Tante, saya sangat berterima kasih atas bantuan Tuan Ferran di saat saya kesulitan, jadi…”“Jadi, kamu membalasnya dengan menyerahkan diri?”Sarah menyambung kalimat Wend

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 47

    Wendy kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh ke arah Ferran.Ciuman masih berlanjut.Ferran akhirnya melepaskannya dan tersenyum tipis. “Pantas saja rasanya manis. Ternyata kamu.”Wendy tersadar dari linglungnya, buru-buru merangkak bangun.“Kalau mengantuk, tidur saja di tempat tidur. Saya… saya pergi ke toilet dulu.”Ferran menatap punggung Wendy yang menjauh, menjilat bibir tipisnya seolah belum puas.Manis sekali.···Di Grup Ferran.Kantor CEO kedatangan seorang tamu tak diundang.“Kak, kenapa denganmu? Kamu habis begadang? Lingkar hitam di matamu parah banget.”Lisa Weston menatap kakaknya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.Mereka pulang negeri bersama. Lisa bekerja di departemen desain salah satu anak perusahaan Grup Hayes, jadi jarang datang ke kantor pusat.Belakangan ini, gosip tentang kakaknya benar-benar bertebaran.Awalnya Lisa mengira itu cuma rumor. Begitu wanita itu muncul di Grup Hayes, dia mau tak mau harus percaya bahwa kakaknya yang terkenal dingin dan keba

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 46

    Ferran membalikkan tubuh, menindih Wendy di bawah, lalu mengetuk keningnya dengan ujung jari. “Memangnya aku bukan pacarmu?”Wendy menatapnya dengan bengong. Selama ini dia mengira Ferran tidak ingin disalahpahami.“Saya…”“Apa aku pacarmu?” tanya Ferran lagi.Hubungan mereka selama ini seperti hubungan terlarang yang tak pantas terekspos. Wendy tak pernah benar-benar memikirkannya.“Mungkin bu… Uhm…”Ferran membungkam mulutnya dengan agresif.Baru setelah puas, dia melepaskan Wendy. Ujung jari mengusap bibir lembutnya, tatapan tajam dan membara. “Kalau bukan pacar, kenapa boleh ciuman?”Wendy tak tahu Ferran sedang mengujinya atau apa. Dia refleks menciut.“Di zaman sekarang, hal-hal seperti ini nggak terlalu dianggap serius.”Wajah Ferran sontak memuram. “Kalau bukan pacar, kenapa boleh berhubungan intim? Wendy, ternyata begini pemikiranmu?”Wendy terdiam, tak mampu membantah.Ferran menghela napas. Ciuman lembut kembali membungkus bibir Wendy.Wendy terasa makin bingung. Semuanya ja

  • Cinta Sejati Pak Ferran   Bab 45

    Ferran menarik Wendy lebih dekat, melindunginya di sisi. Aura kuat yang terpancar dari Ferran membuat Rina mundur beberapa langkah.“Dia pacarmu?”Rina nyaris pingsan karena saking emosi. Kenapa waktunya bisa begitu pas? Wendy bawa pacarnya kemari di saat dia bawa Pak Tito juga.Lantas, bagaimana dengan Tito?“Apa? Pacar? Rina, berani-beraninya kamu membohongiku!”Tito benar-benar murka. Lemak di wajahnya sampai bergetar.Mana mungkin Rina rela membiarkan mahar 1 miliar terbang begitu saja. Meski pria di depan tampak ganteng dan rapi, Rina yakin dia tak sekaya Tito. Jadi, Rina pun tetap memilih untuk berpihak pada Tito.“Pak Tito, harap tenang dulu. Mana mungkin Wendy berpacaran dengannya?” Rina buru-buru menenangkan Tito. Ada Tito di sisinya, nyalinya kembali membesar. Dia jelas tak mau menyinggung donaturnya.“Pria ini nggak punya apa-apa, baik rumah maupun uang. Nggak seperti putra Pak Tito yang nggak hanya tampan, tapi juga punya uang dan rumah. Wendy cuma kalap sesaat. Wendy, deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status