“Nona Wendy tunggu taksi?” Tatapan Ferran datar. Suaranya pun tiada gelombang emosi.
Wendy menunduk, menyembunyikan barang di tangannya ke belakang punggung, menjawab ringan, “Iya.”
Ketika bertemu teman lama, mereka seharusnya saling menyapa dengan ramah. Akan tetapi, dia dan Ferran tidak dekat.
“Saya pamit dulu.”
“Biar aku antar saja.”
Mereka berbicara hampir bersamaan. Langkah Wendy yang baru hendak maju langsung terhenti.
Ferran mau antar dirinya? Ujung jemari Wendy menegang. Tangan menggenggam ujung pakaian dengan gugup. Saat sekolah dulu, mereka hampir tidak pernah berbicara.
Walau saling kenal, rasanya tak ada bedanya dengan orang asing. Setiap bertemu, mereka hanya sebatas saling mengangguk saja.
Tak disangka, Ferran akan menawarkan diri untuk mengantarnya.
Apakah mereka sedekat itu? Apakah dirinya salah ingat?
Di samping, Rian kembali terbelalak. Barusan siapa yang bilang jangan punya rasa kasihan? Sekarang malah menawarkan bantuan?
“Nggak usah, terima kasih.”
Wendy tak bisa menebak apa isi kepala Ferran, juga tak berani menerima bantuan darinya.
Mata pria sedikit menggelap. Nadanya mengandung tekanan yang tak memberi ruang penolakan. “Nona Wendy sudah memberiku barang yang begitu bagus. Aku tentu harus balas kebaikan Nona Wendy. Ayo.”
Tatapannya bergeser sekilas. Rian langsung mengerti, melangkah maju dan mempersilakan dengan sopan, “Silakan, Nona Wendy.”
Naik atau tidak?
Ferran sudah berjalan duluan menuju mobil.
Wendy sangat bimbang. Dengan hujan selebat ini, mustahil dia bisa dapat taksi.
Tujuannya dari tadi juga cuma satu, yaitu mencari tumpangan. Lantas, kenapa harus banyak pikir?
Ferran membuka pintu dan menunggu dengan sabar. Wendy segera menghampirinya dengan kikuk. “Maaf, Tuan Ferran. Saya mengotori mobil Anda.”
Sudut bibir Ferran terangkat samar. “Tenang. Aku nggak akan minta Nona Wendy ganti biaya cuci mobil.”
Ferran sedang bercanda?
Semua orang tahu dirinya adalah pelayan pribadi Aiden.
Selain sekolah dan belajar, dia harus jadi kurir Aiden dan membantunya mengejar pacar. Dia bahkan sering disuruh oleh teman-teman Aiden.
Satu kata salah saja, dia bisa dimaki tanpa ampun oleh Aiden.
Tiga tahun itu adalah masa paling sengsara baginya, sekaligus masa perjuangan terberat dirinya.
Dia tahu kalau dirinya bisa masuk kuliah, dia bisa kerja paruh waktu. Setelah lulus, dia bisa cari pekerjaan lebih bagus dan perlahan melunasi semua hutang pada Keluarga Carter.
Berbeda dengan Ferran yang terlahir unggul dalam segala hal. Nilainya selalu terbaik, keluarganya kaya raya, penampilannya tampan, kepribadiannya mandiri. Banyak gadis tergila-gila padanya.
Di angkatan mereka, Ferran selalu menduduki peringkat pertama.
Dia selalu dipuja orang-orang, sedangkan Wendy selalu melayani orang lain. Mereka hampir tak pernah bersinggungan, kecuali suatu kali saat reuni teman sekelas, entah siapa yang menyebarkan rumor bahwa Ferran menyukai Wendy.
Setelah kejadian baru ketahuan itu hanya fitnah yang dibuat-buat demi memancing pertengkaran antara Ferran dan Aiden.
Gosip ini sempat menghebohkan satu sekolah.
Selama periode waktu itu, Wendy merasakan hinaan dan makian terparah di dalam hidupnya. Bahkan ada yang sengaja menaruh benda-benda menjijikkan ke dalam loker dan tasnya.
Kemudian, drama ini berakhir sebagai sebuah lelucon.
Bagi Aiden, Wendy tidak punya nilai apa-apa.
Sedangkan Ferran jelas tidak mungkin tertarik padanya.
Di mata Wendy, Ferran selalu dingin dan cuek, terutama kalau berurusan dengan dirinya. Alhasil, dia selalu mengira Ferran membencinya. Bagaimanapun, hubungan antara Ferran dan Aiden sudah cukup membuat posisinya jadi rumit.
Kini pria yang dia kira membenci dirinya justru menawarkan tumpangan, bahkan sempat bercanda.
Mungkin setelah beberapa tahun tidak bertemu, rasa benci itu sudah menguap.
Di dalam mobil, Wendy menyandarkan diri sedekat mungkin ke pintu. Dia tidak ingin lumpur dan air di bajunya mengotori pakaian Ferran.
Tatapan Ferran jatuh pada tubuh yang menggigil di samping.
Beberapa detik kemudian, dia melepas jas dan menyampirkannya ke bahu Wendy.
“Tuan Ferran.”
Wendy terkejut, mengangkat kepala dan memandang Ferran.
Tangannya refleks ingin melepas jas tersebut, tapi ditahan oleh Ferran. Ujung jari Ferran yang dingin menyentuh kulitnya.
Dia terlonjak kecil dan buru-buru menarik tangannya, berbisik, “Baju Anda jadi kotor…”
“Kalau hujan deras, jangan keluar rumah pakai kemeja putih lagi.”
Ferran mengalihkan pandangan, menatap ke depan lagi.
Wendy langsung menyadari maksud Ferran. Dia pun refleks merapatkan jas di tubuhnya, menutupi dada, lalu mengucapkan terima kasih.
Di sepanjang jalan, tak ada yang memperhatikan perempuan basah kuyup yang seperti orang gila. Karena terburu-buru, dia pun lupa dirinya sedang mengenakan seragam kerja.
Ferran merasa sedikit gerah, jadi menarik longgar kerah baju. “Nona Wendy mau ke mana?”
“Hotel Imperial, terima kasih.”
Tatapan Ferran mengerut tajam, jemari mengepal tanpa sadar. “Ketemu Aiden Carter?”
“Iya.” Wendy menjawab jujur tanpa banyak pikir.
Buku-buku jari Ferran memucat. Suaranya mengandung nada yang sulit diraba.
“Hujan begini, Nona Wendy bawa tiga kotak kondom untuk menemuinya. Hubungan kalian liar sekali.”
Rian yang sedang menyetir merasakan hawa dingin menyelinap di punggungnya. Entah kenapa dia tiba-tiba punya firasat buruk.
Atasannya baru saja minta kondom tersebut, tapi ternyata orang itu hendak berhubungan intim dengan orang lain. Ini jelas menampar wajah atasannya.
Wendy seketika sadar bahwa jawabannya mudah memicu kesalahpahaman. Dia sempat ingin menjelaskan, tapi sepertinya tidak perlu.
“Ada urusan kerja.”
Tiga kata singkat dan datar menutup topik pembicaraan.
Ferran kembali tenang. “Rian, pergi ke Hotel Imperial.”
Hanya saja dalam seketika, ada sebersit badai berkecamuk tampak di mata pria itu.
“Baik, Tuan.”
Mobil melaju pelan menembus hujan. Keheningan mengisi kabin.
Ferran tiba-tiba bertanya lagi, “Tiga kotak. Memangnya dia sanggup menghabiskannya?”
Wendy tidak tahu apakah Aiden bisa menghabiskan tiga kotak. Tapi, dia tahu betul Aiden hanya sengaja ingin mempersulitnya.
Setiap mantan Aiden mengira dia punya hubungan apa-apa dengan Aiden. Padahal, kenyataannya Aiden sangat membencinya dan mengira dirinya punya maksud lain. Alhasil, Aiden selalu mencari-cari cara menyulitkan hidupnya.
Dia berhutang banyak uang pada Keluarga Carter. Itu pula alasan dia ingin cepat bekerja.
Sebelum hutang lunas, dia tidak akan bisa bebas.
“Apa yang Nona Wendy pikirkan?”
Ferran tiba-tiba mencondongkan tubuh, membuat Wendy terkejut dan tak sengaja menatap langsung ke dalam mata hitamnya.
“Nggak ada,” jawab Wendy sambil menggelengkan kepala.
Di luar, angin masih meraung. Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Sebaliknya di dalam mobil, udara terasa sangat hangat.
“Aku dengar Nona Wendy sedang menjabat sebagai sekretarisnya Aiden?” Ferran bersandar lebih nyaman, menatap lurus ke depan.
“Iya.”
Aiden sebenarnya tidak sudi mempekerjakannya. Nyonya Elena yang memaksa agar dia bisa bekerja di Grup Carter guna menjadi pengasuh Aiden di kantor.
Wendy pernah berpikir untuk kabur. Namun, hutangnya pada Keluarga Carter terlalu banyak. Walau dipandang rendah, gajinya lumayan tinggi. Jadi, dia tidak punya pilihan selain bertahan.
“Aku selalu menghargai orang berbakat. Kalau tertarik, Nona Wendy bisa datang ke Grup Hayes.” Ferran menyodorkan kartu nama pada Wendy.
Grup Hayes adalah pemimpin di industri. Meski tampak selevel dengan Grup Carter, semua orang di dunia bisnis tahu bahwa kemampuan Ferran jauh di atas Aiden.
Wendy tahu dirinya tidak punya prestasi apa pun. Apa yang membuat Ferran menawarkan kesempatan ini padanya? Apa hanya karena dia adalah orang di sisi Aiden?
“Terima kasih, Pak Ferran. Saya terima kartu nama ini dulu.” Wendy menerimanya dengan dua tangan.
Ferran mengangkat alis. “Simpan saja, nggak ada niat untuk datang, benar?”
Wendy tidak jawab, hanya kembali menunduk.
Orang memang akan selalu mencari tempat yang lebih tinggi, tidak seperti air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Namun, tidak semua orang punya hak memilih tempat kerja seenaknya.
Dirinya yang sekarang jelas belum punya kemampuan untuk melompat keluar.
“Tuan, Nona, kita sudah sampai di Hotel Imperial.”
Suara Rian menyela lamunan Wendy.
Dia melepas jas di tubuhnya, melipat rapi.
“Tuan Ferran, terima kasih sudah mengantar saya. Terima kasih juga untuk baju Anda,” ucap Wendy sambil tersenyum tipis.
Di bawah cahaya lampu, wajahnya tampak begitu memesona.
“Jangan dilepas.” Ferran mengambil jas dan kembali menyampirkannya di bahu Wendy.
Wendy tak enak hati untuk menolak lagi. “Kalau begitu, saya akan mengembalikannya pada Anda setelah cuci bersih. Hati-hati di jalan.”
“Nggak perlu. Aku juga mau turun di sini.”
Tangan Wendy yang sudah menyentuh gagang pintu terhenti.
Dia menoleh, menatap Ferran. “Anda menginap di sini?”
“Kenapa? Nona Wendy boleh menginap di sini, aku nggak boleh?”
Wendy agak kikuk. “Bukan begitu maksud saya. Kalau begitu, silakan duluan saja.”
Ferran pun turun dengan langkah panjang. Staf hotel segera menyambutnya dengan penuh hormat.
Wendy berjalan di belakangnya tanpa suara.
Di lobi, dia kembali menyampaikan rasa terima kasih.
“Terima kasih sekali lagi, Tuan Ferran. Saya naik dulu.”
“Sepertinya Nona Wendy sudah nggak sabar.” Suara dingin itu terdengar jelas mengandung amarah yang kuat.
Wajah Wendy seketika pucat, tapi suaranya tetap tenang. “Tuan Ferran, sebaiknya Anda jangan buat pasangan Anda menunggu terlalu lama. Sampai jumpa.”
Tanpa menoleh lagi, dia berjalan menuju lift.
Dia kira Ferran mengantarnya dengan niat baik, tapi sepertinya itu hanya ilusinya. Ferran sepertinya masih sangat tidak menyukainya
“Selamat datang, Tuan Ferran.” Manajer hotel datang dengan senyum kaku.
“Cari tahu, Aiden Carter ada di kamar nomor berapa.” Ferran mengalihkan pandangan dari Wendy yang sudah menjauh.
“Ini…”
Manajer sangat ragu. Baik Tuan Aiden maupun Tuan Ferran, keduanya bukan orang yang bisa dihadapinya.
Setelah menimbang sebentar, dia membuat pilihan.
“Baik, Tuan. Saya akan segera cek.”
...
Di depan kamar 606.
Wendy menarik napas dalam-dalam, merapikan ekspresi wajah, lalu mengetuk pintu dengan pelan.
Orang yang membuka pintu adalah Celine Tanoha, pacar Aiden yang sekarang.
Wendy pernah berurusan dengannya beberapa kali.
Celine selalu menunjukkan permusuhan pada Wendy. Alasannya tidak lain adalah karena Aiden. Padahal, Wendy hanyalah pengasuh.
“Kenapa baru datang sekarang? Basah kuyup begini, kamu mau cari perhatian?”
Celine sengaja menampakkan kulitnya yang penuh bekas kecupan, seolah ingin memamerkan hak miliknya.
Dia tidak tahu bahwa Wendy sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti ini. Hatinya sudah lama kebas.
Apa yang ada di pikiran Wendy sekarang hanyalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
Nyonya Elena menyalahkan semua keburukan putranya pada Wendy, meyakini bahwa dialah penyebab Aiden jadi begini.
Bahkan ketika Wendy mengajukan pemutusan hubungan kerja, Nyonya Elena tidak mengizinkan.
Dia diharuskan untuk melunasi biaya sekolah dan biaya pengobatan neneknya terlebih dahulu. Nominal yang diminta adalah 10 miliar.
“Waduh, kamu pakai jas pria lain ke sini. Kamu sengaja mau bikin Tuan Aiden cemburu?”
Celine benci sekali melihat Wendy selalu berkeliaran di sisi Aiden. Menurutnya, Wendy pasti ingin memanfaatkan kedekatan itu untuk ganti status.
Wendy langsung berjalan masuk tanpa menghiraukannya. “Aku datang hanya untuk mengantar barang yang diminta Tuan Aiden.”
“Hei, sayang!”
Celine memberi tatapan membalikkan mata pada Wendy, lalu berlari masuk.
Kalau bukan karena Wendy, dia mungkin sudah bisa menikah dengan Aiden. Namun, Wendy malah berpura-pura acuh tak acuh. Padahal semua orang tahu dia adalah pengasuh Aiden. Meski begitu, Celine yakin Aiden akan lebih memilih dirinya daripada Wendy.
“Sayang, aku dingin sekali.”
Aiden bersandar dengan satu tangan menopang kepala, menatap perempuan yang mendekat sambil tersenyum miring.
“Kedinginan? Biar aku hangatkan.”
Celine menyelip masuk ke selimut, jemari menyapu dada Aiden, suara sangat centil. “Aduh, Tuan Aiden! Kamu nakal sekali.”
Wendy berusaha bersikap seprofesional mungkin di depan mereka yang sedang bermesraan. “Tuan Aiden, saya sudah bawa barang yang Anda minta. Saya taruh di sini. Saya pamit dulu biar nggak mengganggu.”
Usai berkata, Wendy berbalik hendak pergi.
Hal yang paling dibenci Aiden dari Wendy adalah sikapnya yang selalu datar seolah tak ada yang penting.
Apalagi setelah melihat jas pria yang melekat di tubuh Wendy, api amarah Aiden langsung mengamuk. Wendy pasti sengaja!
Apakah dia berpikir dirinya akan cemburu?
Mimpi!
“Tuan Carter, lihat sikapnya itu!” Celine mengompori, puas melihat wajah Aiden menggelap.
“Berhenti. Sekretarisku nggak mau tonton sebentar?”
“Tuan Aiden, saya masih ada urusan lain. Silakan lanjut saja. Selamat bersenang-senang.”
Wendy tetap menjawab sopan.
Semakin tenang dirinya, semakin besar amarah Aiden.
Perempuan ini dikirim ibunya sejak kecil untuk mengasuhnya.
Wajah datar tanpa ekspresi itu sudah bertahun-tahun dia lihat sampai muak. Selain cantik, tidak ada kelebihan lain.
“Keluar dari sini.”
“Ada orang yang memang suka sekali menempel. Jangan kesal, Tuan Aiden. Biar Celine yang hibur kamu…”
Baru pertama kali ini Celine melihat Aiden begitu marah pada Wendy. Dari hal ini, Celine yakin Aiden tidak suka pada Wendy. Artinya, dia punya kesempatan besar untuk naik status.
Wendy keluar dengan langkah berat.
Dia selalu tahu bahwa Aiden membencinya sehingga selalu mencari cara untuk menghinanya. Kalau bisa pilih, dia juga ingin sekali pergi menjauh dari Aiden.
Hanya saja, dia belum sanggup melunasi hutang pada Keluarga Carter.
Dulu dia pernah bertingkah naif sampai-sampai menyukai Aiden secara diam-diam.
Sejak neneknya sakit, hal-hal seperti cinta tidak lagi ada dalam kamus hidupnya. Hal terpenting baginya hanya satu, yaitu uang.
Wendy hendak berjalan menuju lift. Tiba-tiba, suara berat yang familiar memanggilnya.
“Nona Wendy.”
“Tuan Ferran? Anda di sini juga?”
Ferran tinggal tepat di sebelah kamar Aiden. Sepertinya sendirian…
Dia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku, tampak santai. Senyum tipis di bibirnya membawa nuansa mengejek.
“Cepat sekali kamu keluar. Dia nggak jago?”
Tubuh Wendy menegang. Nada suara Ferran jelas mengandung ejekan.
“Pak Ferran pasti sibuk. Saya pamit dulu biar nggak mengganggu.”
Wendy mengalihkan topik, lalu lanjut melangkah.
Saat mereka berpapasan, pergelangan tangan Wendy tiba-tiba dicekal kuat.
“Tuan Ferran, ada apa?” Wendy merasa kesakitan, jadi menoleh balik.
Rasa tidak nyaman merayap di dadanya. Tatapan Ferran terlalu dalam, membuatnya gelisah tanpa sebab.
Ferran menatap lurus ke matanya, ujung bibir terangkat. “Saya baru pulang negeri dan belum punya pacar. Tapi, aku pengin melakukannya.”
Kalimat terakhir diucapkan Ferran sekata demi sekata.