“Ekhem… ekhem… jadi nyamuk terus nih aku,” goda Intan gemas saat melihat kakaknya makin gencar mendekat ke arah Alya. “Anak kecil ganggu aja! Sana pergi, jangan nempel terus sama orang dewasa,” ledek Rama dengan wajah sengaja dibuat menyebalkan. Intan langsung memonyongkan bibir. “Yaudah, cariin aku pacar dong, Mas. Kayaknya seru deh punya pasangan.” “Hus! Pacar-pacar apa? Sekolah yang benar dulu, baru mikirin pacaran,” sela Alya tegas. Intan malah cengengesan, lalu mengangkat tangan seperti sedang hormat. “Siap, Ibu Negara!” jawabnya santai, membuat suasana kembali mencair. Alya hanya tersenyum kecil sambil menggeleng. Ternyata, tingkah Intan memang semanis itu saat ia merasa aman dan diterima. Namun begitu berada di dekat orang yang membuatnya tak nyaman, gadis itu bisa berubah drastis—menjadi pendiam dan menutup diri seketika. Hari semakin larut. Angin pantai yang tadi terasa menyegarkan kini mulai menusuk, membuat tubuh Alya sedikit menggigil. “Kita masuk saja, yuk,
Read more