Setelah semuanya beres dan suasana kembali tenang, Nadia masih saja melipat tangan di dada dengan wajah yang ditekuk. "Sudahlah, Nad. Kenapa masih cemberut?" ucap Alya, mencoba menenangkan putrinya. "Ibu, aku kesal!" "Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua," ejek Alya mencoba mencairkan suasana yang kaku. Namun, saat Nadia menoleh ke arah ibunya, jarak mereka yang sangat dekat membuat Nadia menyadari sesuatu. Matanya memicing, menatap teliti ke arah leher Alya. Di sana, ada bekas kemerahan yang sudah sedikit memudar—sisa "permainan" panas mereka di hotel kemarin. "Bu..." tanya Nadia pelan. "Apa, Nad?" "Kenapa leher Ibu merah? Apa Ibu punya pacar?" Deg! Alya membeku seketika. Rama yang sedang duduk di kursi tak jauh dari mereka pun ikut menegang, tangannya tanpa sadar meremas buku yang dipegangnya. "Sama siapa nih, Bu? Wah, Ibu nggak asyik, udah punya pacar tapi gak bilang-bilang!" seru Nadia tiba-tiba. Kontras dengan kecurigaan orang normal, Nadia jus
Mehr lesen