Cukup lama aku terdiam di taman rumah sakit, tenggelam dalam pikiran sendiri, hingga akhirnya aku memutuskan untuk bangkit. Namun, baru saja aku hendak melangkah, seseorang yang kukenal mengagetkanku. "Loh, Rama?" Aku spontan menghentikan langkah dan tersenyum canggung padanya. "Sudah lama kita gaak bertemu," ucapnya berbasa-basi. Ia menatapku dengan intens, dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah pangling dengan penampilanku yang sekarang. "Oh iya, aku lupa. Kamu kan menikah dengan Nadia, ya? Perempuan arogan yang lahir dari keluarga kaya raya," celetuknya dengan senyum meremehkan. Dia adalah Uli, sahabat Nadia semasa sekolah. Kenapa aku tahu? Ya, karena aku tahu persis siapa saja teman-teman kuliahnya dulu. "Sudahlah Uli, jangan berbasa-basi. Aku permisi dulu." "Eh, tunggu..." cegahnya sambil menghalangi jalanku. "Sedang apa kamu di sini? Apa istrimu sakit?" "Ibunya yang sakit," jawabku acuh. Ia mengangguk-angguk. "Tapi kamu jadi semakin tampa
Read more