Nadia menatap remeh ke arah Rama, lalu memutar bola matanya malas seolah keberadaan pria itu tak lebih dari gangguan kecil. “Nad, kenapa kamu begitu sama ibumu sendiri?” tanya Rama dengan nada rendah, namun jelas menuntut jawaban. Nadia mendengus. “Aduh, mulai deh…” potongnya cepat, wajahnya menunjukkan rasa jengah. “Kalian itu kenapa, ya? Kalau dilihat-lihat, malah kalian yang seperti pasangan suami istri. Apalagi Ibu, getol banget, Mas, ngurusin kamu,” ucap Nadia sinis, matanya menatap tajam dan penuh kecurigaan ke arah Rama. Dada Alya terasa terbakar. Panas dan sesak. Ia benar-benar tak habis pikir. Anak kecil yang dulu selalu ia dekap, ia timang, ia lindungi dari kerasnya dunia—kini berdiri di hadapannya sebagai sosok yang begitu tajam dalam kata dan sikap. "Ya kenapa kamu biarkan, Nad?" tanya Rama tiba-tiba. "Maksud kamu apa?" Nadia mengernyit. "Iya, kalau memang kamu menganggap aku dan Ibu seperti suami istri, kenapa kamu biarkan? Kamu kan bisa mengambil ali
Baca selengkapnya