"Kamu nggak yakin banget, Nad, sama suamimu sendiri?" "Ya siapa yang yakin, Mas? Bahkan kamu miskin! Hidup mewah pun sekarang di bawah kakiku. Sok-sokan mau bayar dua miliar, mau jual jantung?!” semprotnya tanpa ampun. Kata-katanya tajam, menusuk harga diri Rama tanpa sisa. Rama terdiam. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat, ia ingin membalas—ingin mengatakan siapa dirinya sekarang,Namun lagi-lagi ia harus menahan diri. “Ya kan aku sudah bilang, aku mau hutang sama bosku demi kamu, demi membantu istri!” Rama menekankan setiap kata, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. “Aku nggak peduli kamu bilang aku miskin atau apa. Kalau memang harus berutang, aku yang tanggung. Tapi setidaknya kamu berhenti meremehkanku,” lanjutnya, napasnya masih tertahan emosi. “Halah, Mas, sok-sokan mau berkorban!” Nadia mendecih sinis. “Ya sudah, Mas nggak jadi bantu,” “Loh, kok gitu? Dasar ya, kamu memang sudah miskin, belagu lagi!” “Jadi maumu apa, Nadia?!” rama menjawab suaranya sedikit
더 보기