Keduanya terkapar lemas. Seperti biasa, senyum malu-malu terukir di wajah mereka setelah badai gairah itu mereda. Alya memiringkan tubuhnya, menatap lekat wajah menantunya yang tampak jauh lebih tenang sekarang. "Bagaimana rencanamu ke depan, hm?" tanya Alya lembut. Rama terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah mertuanya. "Aku tak bisa tetap diam, Bu. Maaf," jawab Rama, membuat dahi Alya berkerut heran. "Maksudnya?" Rama tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu kembali melumat bibir merah muda mertuanya itu dengan dalam. Alya terbelalak kaget, namun sedetik kemudian ia tersenyum girang dalam hati. Alya membalas lumatan itu, mendesah pelan di sela-sela napasnya yang memburu. Namun, karena tenaganya benar-benar terkuras oleh "kepuasan" yang diberikan Rama, ia akhirnya mendorong pelan tubuh menantunya itu. "Sudah, Ram... Kamu kebiasaan, ah!" desah Alya sembari membalikkan tubuh, membelakangi Rama. Rama terkekeh pelan. Ia menyelusupkan tangannya ke pinggang Alya, mem
Read more