Rama tak lantas membalas pesan itu. Ia hanya membacanya sekilas, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket. Setelah memastikan semua siap—kunci mobil, laptop, dan black card yang selalu ada di dompetnya—ia menghampiri Intan. "Ayo, Tan," ajak Rama lembut. Ia mengulurkan tangan, membiarkan adik angkatnya itu menggenggam jemarinya dengan erat, seolah menyalurkan kekuatan. Ada rasa bersalah yang menghunjam; karena ulahnya, gadis ini harus menanggung trauma yang mungkin membekas seumur hidup. "Mau ke mana?" tanya Alya heran sembari melepas celemeknya. "Aku mau mengantarnya ke asrama, Bu. Tinggal di sini hanya akan membahayakan mental dan psikisnya," jawab Rama datar, sempat melirik tajam ke arah Nadia yang masih santai menyesap tehnya. Alya meringis, raut wajahnya menunjukkan keberatan. "Kenapa buru-buru?" tanyanya, seolah tak rela berpisah dengan Intan. "Aku ikut!" seru Alya lagi, membuat Nadia melongo tak percaya. "Ngapain sih, Bu, pakai ikut-ikutan segala? Biarin ken
続きを読む