LOGINPonselnya terjatuh, tergeletak di atas lantai marmer yang dingin. Saat Alya hendak meraihnya, kedua pria itu semakin mendekat, bayangan besar mereka seolah mengunci pergerakan Alya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama yang mematikan. "Hah... hah... hah..." Napasnya tersengal. Alya bimbang, antara harus mengambil ponsel itu atau segera masuk ke dalam kamar. Namun, jika ponsel itu tertinggal, ia tahu Nadia—ular yang ia besarkan sendiri—akan menemukan semua rahasia hubungannya dengan Rama. Beruntung, di dekatnya ada sebuah guci kecil. Dengan sisa tenaga, ia melemparnya ke arah kedua pria itu. PRANG! Suara pecahan beling terdengar nyaring. Kedua pria itu tersentak mundur agar tak terkena serpihan. Dengan gerakan secepat kilat, Alya menyambar ponselnya dan melesat masuk ke kamar. BRAK! Pintu terbanting keras. Alya langsung mengunci pintu itu dari dalam. "HAH... HAH... HAH... HAMPIR SAJA!" Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, l
"NADIA!" Pekik Alya tak percaya. Ia mundur perlahan, melepaskan genggamannya pada tangan putri yang selama ini ia biayai dan besarkan sendirian tanpa bantuan siapa pun.Dunianya terasa runtuh seketika. "Bu, ini hanya semalam. Lihat tubuh kedua pria itu, sangat tegap. Ibu pasti akan puas, apalagi sudah lama Ibu gak ada yang menyentuh," ucap Nadia gamblang tanpa rasa malu sedikit pun pada ibunya sendiri. Napas Alya tertahan di kerongkongan. Ada rasa menyesal yang amat dalam karena telah memungut dan membesarkan Nadia. Di benaknya, ia merasa seperti memelihara seekor ular; ia memberinya makan, tapi setelah kenyang, ular itu justru menggigit dan menghancurkannya. "Gila kamu, Nadia! Gila! Aku ini ibumu! Aku yang membesarkanmu, yang mengurusmu!" teriak Alya, mencoba menyentak kesadaran Nadia yang sudah dibutakan oleh harta. Nadia hanya menggeleng acuh tak acuh. Sementara itu, Ambar menyaksikan drama itu dengan senyum kemenangan. Ia tidak perlu repot-repot menekan salah satunya; k
“Papa mau mampir dulu ke kediamanku?” tawar Rama setelah mereka cukup lama mengobrol.Ia menatap ayahnya sejenak.Mengingat… pria itu memang berencana kembali ke Malaysia minggu ini. "Boleh, Ram," ucap Tansri setuju. Rama dan ayahnya segera tancap gas menuju mansion miliknya—mansion yang ironisnya sempat nyaris dijual secara sepihak oleh Nadia demi gaya hidupnya. Sementara itu, di dalam mansion... Untuk pertama kalinya dalam hidup, Nadia bersimpuh. Ia menghancurkan harga dirinya sendiri di depan Ambar, perempuan yang terbukti tidak main-main dengan ancamannya. "Cepat bayar lima miliar sekarang!" teriak Ambar tanpa belas kasih. Tangannya bergerak kasar menjambak rambut Nadia, memaksa wanita pengkhianat itu menatapnya. "Jalang sialan. Lain kali kalau mau selingkuh, teliti dulu! Banyak pria sok kaya di luar sana yang sebenarnya cuma memakai harta istrinya!" Ambar mengempaskan kepala Nadia dengan kasar. Nadia hanya bisa terisak, tak berani melawan karena di belakang Ambar be
Setelah mendengarkan penjelasan Rama pada Pak Yuda, suasana di meja itu berubah total. Pak Yuda yang awalnya meledak-ledak kini tampak sangat segan, bahkan gestur tubuhnya menjadi lebih sopan sekaligus bangga. Ia duduk membusungkan dada, mencoba menetralkan rasa malunya. "Bangga sekali aku, Ram. Ternyata seorang anak pengusaha besar pernah bekerja di kantorku yang tak seberapa itu," ucapnya dengan nada yang dibuat-buat, berusaha akrab kembali. Rama hanya tertawa tipis. Aura kepemimpinan dan karismanya kini benar-benar terpancar, tidak ada lagi jejak pegawai rendahan yang bisa disuruh-suruh. "Tapi..." Yuda kembali membuka suara, kerutan di dahinya menandakan rasa penasaran yang besar. "Bagaimana dengan istrimu itu?" Tansri ikut mengerutkan dahi, merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Istrimu sudah memiliki nama buruk di mana-mana, Ram. Apa kamu gak mau mengusut semua orang yang menghinanya?" tanya Yuda. Rama menggeleng tenang. "Itu salahnya sendiri." "Ya, memang benar. Bah
"Papa tahu, Ram. Papa sangat tahu... tapi Papa tidak bisa menahan,setiap pertanyaan itu selalu muncul di kepala," ujar Tansri pelan saat menatap wajah serius putranya. Rahang tegas, sorot mata tajam dan dingin—segala yang ada pada diri Rama seolah menjadi cerminan sempurna dari masa muda Tansri. Mungkin itulah alasan… yang membuat Tansri tak lagi ingin berjauhan dengan putra tunggalnya. Setelah puluhan tahun terpisah, ia ingin menebus semua jarak yang pernah ada. Rama mengangguk pelan. "Iya, Pah. Aku paham. Maafkan aku ya, Pah," ucapnya tulus, merasa bersalah karena belum bisa sepenuhnya menuruti keinginan sang ayah untuk segera diboyong ke Malaysia. "Tapi aku ingin pergi dari sini setelah semua urusanku selesai. Aku bukan tipe pria yang lari dari masalah. Itu tindakan pengecut, Pah," tegas Rama lagi. Tansri terkekeh puas. Ia menepuk-nepuk bahu putranya dengan bangga. "Sifat keras kepalamu itu... benar-benar mewarisi sifat Papa!" Rama ikut terkekeh kecil, mencairk
Bi Nunu mengiris bawang dengan tangan yang masih gemetar. Jantungnya belum juga tenang setelah menyaksikan kenyataan pahit, tuannya yang selama ini terlihat sangat baik, ternyata memiliki hubungan terlarang dengan ibu mertuanya sendiri,pikirnya. Ada secercah rasa simpati muncul di hati Bi Nunu untuk Nadia. Ia tak tahu bahwa sikap Rama sebenarnya hanyalah balasan dari perlakuan buruk Nadia selama ini kepada suaminya. Pikiran Bi Nunu berkecamuk; haruskah ia memendam rahasia ini sendiri atau membaginya dengan saudaranya? Namun, ia segera mengurungkan niat itu. tahu betul saudaranya punya sifat ceplas-ceplos yang bisa membahayakan keadaan. "Ah, sudahlah, lupakan saja!" gumamnya sambil mengibaskan tangan ke udara, sementara tangan satunya masih menggenggam pisau dapur. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Pagi yang cerah itu seketika terasa mendung saat Bi Nunu mendapati tatapan bengis Nadia yang sudah tertuju padanya. "Belum siap juga sarapannya?!" bentak Nadi
Tepat tengah malam, mereka baru menginjakkan kaki di halaman rumah. Nadia sudah menunggu di balik pintu dengan wajah yang lebih suram dari langit malam. Begitu pintu terbuka, ia langsung menyambut mereka dengan rentetan kata-kata tajam. Tatapannya pada Intan masih dipenuhi kebencian yang mendarah d
Pria di hadapannya ini tidak tahu bahwa mansion yang ia injak, udara yang ia hirup di taman ini, semuanya adalah milik Rama."Kenapa diam? Merasa benar?" riko terkekeh, semakin berani karena merasa Rama tak berdaya. "Dengar ya, pria itu harus punya harga diri. Tapi melihat kamu... kayaknya kamu mem
Pergulatan keringat dan gairah itu berlangsung sangat intens di tengah kesunyian mansion mewah tersebut. Rama seolah tak ingin berhenti; baginya, memiliki Alya sepenuhnya seperti ini adalah kemenangan mutlak atas harga dirinya yang selalu diinjak-injak Nadia. Setelah mencapai puncaknya dengan le
Rama mendongak lalu tersenyum getir. Ternyata itu Riko, sahabat lamanya. Riko langsung mengambil tempat di kursi kosong depan Rama tanpa perlu dipersilakan, persis seperti kebiasaannya dulu yang sok asyik. "Ngapain pagi-pagi sudah nongkrong?" tanyanya sambil meletakkan kunci mobilnya di meja.







