Keheningan di dalam penthouse Seonwoo terasa begitu mencekam, lebih berat daripada udara sebelum badai besar melanda. Seonwoo masih duduk di kursi kecil di samping ranjang Winda, matanya yang merah dan cekung menatap tanpa henti pada wajah pucat wanita itu. Sudah dua belas jam berlalu sejak insiden kritis tersebut, dan Seonwoo tidak beranjak barang satu inci pun. Ia mengabaikan panggilan telepon dari kantor pusat, mengabaikan laporan dari Jakarta tentang loker yang kosong, dan mengabaikan rasa lapar yang mulai menggerogoti tubuhnya.Pagi itu, cahaya matahari Seoul yang tipis mulai menembus tirai tipis kamar, menyinari butiran debu yang menari-nari di atas wajah Winda. Tiba-tiba, kelopak mata Winda yang halus bergerak. Sebuah gerakan kecil, namun bagi Seonwoo, itu adalah ledakan harapan di tengah kegelapan."Winda?" bisik Seonwoo, suaranya parau dan bergetar.Perlahan, mata itu terbuka. Winda mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan. Pupil mata
Last Updated : 2026-01-08 Read more