“Baik, Pak.”Dinara mengerjakan file demi file. Dengan Elang yang terus menatapnya. Ditatap terus menerus begitu, membuatnya tak nyaman.“Bagaimana anak baru itu?” tiba-tiba saja Elang menanyakan Arvin.Dinara menoleh, “Arvin… dia cekatan Pak, cepat belajar. Dan sekarang sudah lebih mengerti ritme kerja Bapak.”Elang hanya diam, ia menopang dagu dengan tangannya.“Bagus, lanjutkan…”*Di hari berikutnya, Dinara dan Arvin makan siang bersama di kafe tepat di seberang gedung SHG. Arvin lebih banyak bicara, tentang target mingguan, klien yang rewel, dan strategi pemasaran yang menurutnya perlu dievaluasi ulang. Dinara menanggapinya serius, sesekali mengangguk sambil memberikan komentar singkat.Namun fokusnya buyar ketika ujung matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Elang Adikara.Pria itu berdiri di depan etalase kue, entah kapan masuknya. Tangannya menunjuk satu jenis kue, lalu beralih ke menu minuman. Dinara sedikit terkejut, baru kali ini melihat Elang memesan sendiri. Bias
Last Updated : 2025-12-22 Read more