Jody mematikan rokok di tangannya. Kemudian, tiba-tiba dia mengulurkan tangan dan mencekik leher Amelia yang ramping juga putih itu. Suaranya sama sekali tidak menyembunyikan amarahnya, "Amelia, aku akui, kamu sudah menyelamatkanku dan melindungiku dari pisau itu. Aku memang harus berterima kasih padamu. Aku juga benar-benar sempat menaruh rasa padamu. Tapi, dari ribuan kesalahan yang bisa kamu lakukan, kamu seharusnya nggak pernah berani mengusik ibuku!""Aku …." Amelia mengerutkan kening. "Uhuk, uhuk … aku benar-benar nggak …."Tepat pada saat itu, ponsel Jody berdering.Amelia melihat ponsel yang diletakkan Jody di atas dasbor. Di layarnya, tertera nama si penelepon, "Rissa".Dengan napas yang tersengal-sengal, Amelia berkata, "Jo …. Pak Jody … teleponnya berdering …."Jody menekan tombol jawab. Namun, tatapan matanya tetap terpaku tajam pada Amelia.Dari telepon terdengar suara Rissa yang lembut dan ceria, "Jody, aku lagi belanja dan melihat sebuah dasi yang sangat cocok untukmu. A
Read more