Di tengah hutan belantara yang berbatasan dengan tebing curam, A Ying memacu kudanya dengan sangat pelan. Malam terasa begitu mencekam, hanya terdengar suara ranting kering yang patah terinjak kaki kuda.Kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi. Tangan kirinya memegang tali kekang, sementara tangan kanannya selalu siaga di dekat pedang. Di punggungnya, busur dan anak panah tak pernah ditinggal.A Ying memejamkan mata dan menajamkan pendengarannya di tengah embusan angin malam. Tiba-tiba, dari balik pohon, terdengar suara perempuan yang menahan batuknya.A Ying membuka mata. Ia turun dari kudanya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia mencabut pedangnya perlahan yang suaranya bisa membuat gigi ngilu, kemudian melangkah mengendap-endap mendekati sumber suara.Di balik pohon itu, ada seorang wanita sedang bersandar. Pakaian dalamnya masih basah dan kotor, darah segar merembes dari sudut bibirnya dan mengenai telapak tangannya, akibat pertarungan sengit dengan Fenglan. Saat A Ying ingi
続きを読む