Pagi-pagi sekali, istirahat Fenglan terganggu. Suara kentungan membuat ia menutup telinga. Tapi suara itu tak kunjung berhenti. Hingga ia menyibak selimut dengan mata setengah terbuka.Di hadapannya terdapat seorang perempuan cantik sedang membaca doa dengan serius. Sebelah tangannya memegang japamala dan sebelahnya lagi memukul kentungan kecil.“Furen, apa yang kau lakukan?” tanya Fenglan setengah pasrah, setengah tak rela.“Berdoa dan membaca sutra Buddha, agar pertemuan kita beberapa hari lagi dengan Pangeran Rui lancar,” jawab Muyin tanpa membuka matanya. Suara tuk, tuk, tuk terdengar pelan, tapi pasti dan terus-menerus.“Astaga, memang Buddha akan datang menemuimu nanti?”“Tidak, tapi aku yakin pertolongan-Nya akan datang tepat waktu.” Tuk. Pukulan terakhir Muyin selesai dibunyikan, kemudian ia membuka matanya.“Baguslah kalau sudah selesai, aku mau lanjut tidur lagi.”“Kata siapa selesai?” Muyin menyeringai lebar. “Masih ada tiga sutra yang harus aku baca lagi.”Muyin jeda sebe
Read more