Alunan kecapi Lu Meng terdengar lembut, mengalir ke setiap sudut ruangan yang diterangi hanya oleh cahaya lilin. Jemarinya tampak luwes sementara matanya terus menunduk, terlihat polos tapi penuh tipu daya.Saat nada sendu sedang dimainkan, pintu terbuka pelan sekali. Lu Meng mendengarnya, tapi ia tak bereaksi sedikit pun. Terlihat seseorang bertubuh langsing dengan pakaian lelaki masuk.Meski wajahnya terlihat biasa saja seperti prajurit lelaki pada umumnya, langkah kakinya yang ringan tanpa tekanan sedikit pun langsung dikenali oleh Lu Meng. Ia memang bukan prajurit biasa, melainkan satu dari seribu wajah Shu Li.Pangeran Canglan, yang sedari tadi bersandar memegang cangkir araknya, membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia memberikan kode rahasia melalui tatapan mata dan sedikit gerakan dagunya. Mengerti isyarat tersebut, Shu Li mendekat ke samping meja tempat Pangeran berada.Lu Meng sama sekali tidak menghentikan permainannya. Ia justru membiarkan alunan kecapinya mengalun lebi
Read more