Fenglan merasakan pijatan lembut di bahunya. Ia memejamkan mata ketika tangan Muyin terus turun menyentuh dadanya.“Ternyata kau juga tidak tahan untuk tidak melihatku mandi, Furen,” ucap Fenglan sambil nyengir. Namun, tiba-tiba saja pijatan lembut itu berhenti.Fenglan membuka mata dan melihat ke belakang, Muyin tidak ada di sana. Ia bangkit dan menutupi tubuhnya dengan kain lalu ke kamar dan melihat wanita tersebut masih menikmati secangkir teh.“Sudah selesai, kalau begitu aku mandi dulu.” Muyin berlalu begitu saja.“Eh.” Fenglan ingin bertanya tapi ia urungkan. Rasanya ada yang aneh, tapi ia tidak tahu apa. “Sudahlah, selagi tidak ada yang terjadi.”Lelaki itu menggunakan sutra baru warna abu-abu tua, dan tak lama kemudian Muyin berdandan dengan dibantu dua pelayan. Fenglan keluar dan menunggu di tempat duduk depan teras, kembali ia rasakan pijatan lembut di bahunya. Namun, ia segera menoleh dan tidak ada siapapun di belakangnya.“Fujun, aku sudah siap, ayo kita temui Nenek dan Ib
Read more