“Nyonya, apakah mau diambilkan bubur dan sup untuk makan malam?” tanya Muli sambil menatap Muyin.“Tidak, nanti saja, aku sedang ingin menulis, Muli, kau bisa tinggalkan aku sendirian,” pinta Muyin dengan lembut dan pelayan itu sedang keluar.Aroma tinta bercampur dengan wangi cendana menguar. Muyin duduk dengan anggun di depan meja, tangannya yang lentik memegang kuas, menggoreskan tinta hitam ke atas kertas dan membentuk kaligrafi yang indah. Ia butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya yang terus berputar mencari kepingan masa lalu.Terdengar suara pintu berderit dan perhatian Muyin tak teralihkan, ia hanya berpikir bahwa yang datang Muli dan membawakannya bubur hangat. Namun, Ah Lin, melangkah masuk membawa sebuah ember berisi air bersih dan kain lap.Mojin di balik pakaian perempuan, membersihkan debu di sudut ruangan. Setelah memastikan pintu tertutup rapat dan tidak ada pelayan lain, langkah gemulainya seketik
Baca selengkapnya