"Ruyin, anakku! Astaga, Langit memberkatimu!" ucap Mu Shuhua sambil mengangkat jubah sutranya agar tidak terkena genangan salju.Ia mendekat dan merentangkan tangan, hendak memeluk Muyin. Namun, dengan gerakan yang sangat halus, Muyin mundur hingga pelukan Mu Shuhua tidak terbalas."Terima kasih atas sambutannya, Nyonya Mu," ucap Muyin dengan penuh sopan santun. "Tapi seperti yang Nyonya Mu lihat, aku baik-baik saja."Mu Shuhua menarik tangannya kembali, raut wajahnya jelas sekali tidak suka. Ia berpura-pura tenang meski hatinya malu mendapat penolakan di depan umum."Nyonya Mu? Astaga, anak ini, apakah kau masih marah denganku?" Mu Shuhua tertawa sambil mengibaskan sapu tangannya. "Kudengar dari desas-desus di pasar, kau jatuh ke sungai berarus deras dan hilang tanpa jejak. Ke mana saja kau selama ini, Nak? Apa terbentur sesuatu? Kau tampak berbeda. Tatapanmu sedikit linglung dan seperti orang tolol," kata Mu Shuhua tajam dan menyakitkan.Muyin bisa menangkap maksud di balik pertanya
Read more