Muyin bangun dan duduk di belakang punggung Fenglan. Tangannya mulai meraih sabuk kain di pinggang suaminya. Namun, karena Fenglan mengikatnya terlalu kuat saat masih emosi tadi, atau bisa jadi Muyin grogi karena terlalu dekat, sabuk itu tak kunjung terbuka."Aduh, kenapa ikatannya susah sekali, Fujun? Kau sengaja mengikatnya dengan simpul mati supaya aku tidak bisa melihatnya, ya?" celetuk Muyin asal-asalan.Fenglan yang duduk memunggunginya hanya tersenyum miring, ia membiarkan istrinya sibuk sendiri di belakang sana."Aku tidak mengikatnya dengan simpul mati. Mungkin sabuk baju dalamku ini tahu kalau istriku sedang lupa ingatan, jadi dia menahan diri untuk melindungi kesucian tuannya.""Sejak kapan kesucian laki-laki dipermasalahkan?" tanya Muyin gemas, ia menarik ujung sabuk itu lebih keras tapi malah membuatnya semakin kusut. "Kalau susah dibuka, ambil gunting saja terus aku potong saja sabuk ini."Fenglan menoleh. "Hei, jangan sembarangan, ini baju pinjaman temanku, biar aku saj
อ่านเพิ่มเติม