“Semalam siapa yang telepon Na?” tanya Wina. “Nggak tahu, dimatiin pas diangkat.” jawabnya sembari fokus pada laptopnya. Wina memasang wajah menduga,”Jangan-jangan, si Byan?” Jemari Nara berhenti menggores pensil, matanya terlihat menyinkronkan dengan cara kerja otaknya atas dugaan Wina.”Nggak. Aku yakin bukan.” “Ya bisa aja dong, secara dia masih nggak terima diputusin, ketahuan selingkuh, dan kamu terlihat cepat move on. Hati Byan pasti bagai bara api Na,” cerocos Wina panjang lebar. “Biarin lah Win.” kata Nara dingin. “Jika dia kembali mengusik hidupku lagi, aku bahkan akan terang-terangan mengatakan dan menunjukkan, nih pacarku yang baru, mau apa kamu?” terangnya sok hebat. Wina tertawa geli,”Widihh udah berani aja, maksudnya si Aland pacarnya?” “I-iya juga yaaa? Masa Aland cowoknya sih?” Nara baru sadar yang ia banggakan pacarnya adalah peran Aland. Lusi yang mendengar percakapan keduanya nampak geleng-geleng kepala. Satunya pintar memprovokasi satunya terlalu naif dan ge
Last Updated : 2025-12-24 Read more